Referensi Jurnal Skripsi

A.  Latar Belakang Masalah

            Stres adalah masalah yang akhir-akhir ini hangat dibicarakan, dan posisinya sangat penting dalam kaitannya dengan produktifitas kerja karyawan. Masalah tentang stres kerja pada dasarnya sering dikaitkan dengan pengertian stres yang terjadi di lingkungan pekerjaan, yaitu dalam proses interaksi antara seorang karyawan dengan aspek-aspek pekerjaannya.

Perkembangan ekonomi yang cepat, perampingan perusahaan, PHK, merger dan bangkrutnya beberapa perusahaan merupakan beberapa akibat dari krisis yang berkepanjangan telah menimbulkan dampak yang sangat merugikan bagi ribuan bahkan jutaan tenaga kerja. Belum lagi pekerja harus menghadapi lingkungan kerja yang panas, berisik, kurangnya udara bersih, pengawasan yang ketat, dan overload. Para pekerja di setiap level mengalami tekanan, dan situasi inilah yang seringkali memicu terjadinya stres kerja.

Stres kerja, oleh para ahli perilaku organisasi, telah dinyatakan sebagai agen penyebab dari berbagai masalah fisik, mental, bahkan output organisasi. Stres kerja tidak hanya berpengaruh terhadap individu, tetapi juga terhadap biaya organisasi dan industri. Banyak studi yang menghubungkan stres kerja dengan berbagai hal, misalnya stres kerja dihubungkan dengan kepuasan kerja, kesehatan mental, ketegangan, ketidak hadiran, dan sering juga dihubungkan dengan kinerja (http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2001/08/22/0083.html).

Dalam kehidupan modern yang makin kompleks, manusia akan cenderung mengalami stres apabila ia kurang mampu mengadaptasikan keinginan-keinginan de­ngan kenyataan-kenyataan yang ada, baik kenyataan yang ada di dalam maupun di luar dirinya. Segala macam bentuk stres pada dasarnya disebabkan oleh kekurangmengertian manusia akan keterbatasan-keterbatasannya sendiri. Ketidakmampuan untuk melawan keterbatasan inilah yang akan menimbulkan frustasi, konflik, gelisah, dan rasa bersalah yang merupakan tipe-tipe dasar stres (Anoraga, 2006).

Pengaruh stres kerja ada  yang  menguntungkan  maupun  merugikan  bagi perusahaan. Namun pada taraf tertentu pengaruh yang menguntungkan perusahaan diharapkan akan memacu karyawan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Reaksi terhadap stres dapat merupakan reaksi bersifat psikis maupun fisik. Biasanya pekerja atau karyawan yang stres akan menunjukkan perubahan perilaku. Perubahan perilaku terjadi pada diri manusia sebagai usaha mengatasi stres. Usaha mengatasi stres dapat berupa perilaku melawan stres (flight) atau berdiam diri (freeze). Dalam kehidupan sehari-hari reaksi ini biasanya dilakukan secara bergantian, tergantung situasi dan bentuk stres.

Stres pada dasarnya ditimbulkan dari diri sendiri, stres merupakan sesuatu yang bersifat alamiah. Orang stres dikarenakan dirinya tidak mampu mengadaptasikan keinginan-keinginannya, dan ketidakmampuan tersebut yang akan menimbulkan frustasi dan konflik. Faktor utama yang menyebabkan stres yaitu perubahan di dalam lingkungannya dan dari dalam diri manusia itu sendiri.

Stres adalah suatu kondisi dinamik yang di dalamnya seorang individu dikonfronfasikan dengan suatu peluang, kendala (constraints), atau tuntutan (demands) yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkannya dan yang hasilnya dipersepsikan sebagai tidak pasti dan penting (Robbins, 2002).         Situasi stres menghasilkan reaksi emosional mulai dari kecemasan, kemarahan, kekecewaan, dan depresi. Respons yang paling umum terhadap suatu stresor adalah kecemasan. Kita mengartikan kecemasan sebagai emosi tidak menyenangkan yang ditandai oleh istilah seperti kuatir, prihatin, tegang, dan takut yang dialami oleh semua manusia dengan derajat yang berbeda-beda (Atkinson, dkk, t.t.).

Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa stres adalah suatu kondisi psikologis yang tidak menyenangkan dalam bekerja karena karyawan merasa terancam oleh ketidaksesuaian dan ketidakseimbangan dalam berinteraksi dengan aspek-aspek pekerjaannya. Ancaman ini merupakan bentuk persepsi dan penilaian karyawan. Hal ini juga berlaku di PT Amitex Pekalongan yang merupakan pabrik tekstil. Hal tersebut diketahui dari hasil wawancara dengan Direktur PT Amitex diketahui bahwa gejala stres yang dikemukakan di atas juga terjadi pada karyawan perusahaan. Hal ini terlihat dari adanya karyawan yang mengeluh sakit kepala atau sakit perut akibat merasa stres dalam bekerja. Hal ini juga dibenarkan oleh karyawan pada saat melakukan wawancara dengan mereka. Karyawan menyatakan bahwa karyawan sering merasa tegang sampai dengan sakit kepala dan sakit perut apabila mengalami stres. Ada juga yang mengalami gejala stres merasa gelisah, gejala ini muncul terutama apabila karyawan melakukan kesalahan dalam bekerja.

Terlepas stres itu menjadi dominan atau tidak, tapi stres kerja kerap menjangkiti karyawan perusahaan. Stres kerja ini bisa menimbulkan dampak baik, tapi sekaligus buruk bagi yang bersangkutan dan bagi organisasi atau perusahaan. Selanjutnya dari hasil wawancara dengan karyawan Bagian Produksi diketahui bahwa karyawan yang mengalami stres kerja cenderung jadi tidak produktif, tidak tertantang untuk menunjukkan kehebatannya, secara tidak sadar malah menunjukkan kebodohannya, malas-malasan, tidak efektif dan tidak efisien, ingin pindah tetapi tidak pindah-pindah, dan seterusnya.

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp350ribu Rp300ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk file/softcopy langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Telpon kami langsung atau ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509 atau 0274-9300600

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Stres kerja yang dialami karyawan membuat selain menyebabkan menurunnya produktivitas, juga bisa mengurangi kekebalan tubuh. Karena itu, ada kemungkinan bahwa si penderita ini gampang terkena sakit, dari mulai yang berstadium rendah sampai ke yang berstadium tinggi. Sedikit-sedikit minta izin atau sering tidak masuk kantor. Ini jelas merugikan yang bersangkutan dan juga perusahaan. Stres kerja juga bisa mengganggu komunikasi atau hubungan, baik itu interpersonal dan intrapersonal.

Paradok yang kerap dialami para penderita stres, adalah saat memerlukan bantuan orang lain, akan tetapi dia tidak mampu mengekspresikannya atau melakukannya dengan baik. Akibatnya mudah marah, mudah tersinggung, mudah mengacaukan suasana keakraban, komunikasi yang agresif atau submisif, apatis, dan   lain-lain.  Karena  itu,  hubungannya  gampang  berantakan  di  tengah  jalan, gampang putus, atau gampang ngambek.

Hans Selye (Munandar, 2001) mengembangkan konsep yang dikenal dengan Sindrom Adaptasi Umum (General Adaptation Syndrome) yang menjelaskan bila seseorang pertama kali mengalami situasi penuh stres, maka mekanisme pertahanan dalam badan diaktifkan: Kelenjar-kelenjar tubuh mengeluarkan/melepaskan sejumlah adrenalin, cortisone dan hormon-hormon lain dalam jumlah yang besar dan perubahan-perubahan yang terkoordinasi berlangsung dalam sistem saraf pusat (tahap alarm). Jika exposure (paparan) terhadap pembangkit stres bersinambung dan badan mampu menyesuaikan, maka terjadi perlawanan terhadap sakit. Reaksi badaniah yang khas terjadi untuk menahan akibat-akibat dari pembangkit stres (tahap resistance). Tetapi jika paparan terhadap stres berlanjut, maka mekanisme pertahanan badan secara periahan-lahan menurun sampai menjadi tidak sesuai, dan satu dari organ-organ gagal untuk berfungsi sepatutnya. Proses pemunduran ini dapat mengarah ke penyakit dari hampir semua bagian dari badan (tahap exhaustion).

Munandar (2001) mengemukakan bahwa pembangkit stres (stresors) dianggap sebagai sumber stres kerja adalah sebagai berikut: Faktor–faktor intrinsik dalam pekerjaan dapat berupa tuntutan fisik dan tuntutan tugas. Tuntutan fisik tersebut meliputi kebisingan, vibrasi, dan hygiene dan tuntutan tugasnya meliputi kerja shift/kerja malam, beban kerja, dan penghayatan dari resiko dan bahaya.

Di lain pihak, Samosir dan Syahfitri (2008) menyatakan bahwa pemicu stres (stressor) di dunia perpustakaan perguruan tinggi antara lain adalah renumerasi yang rendah, beban kerja yang berat, lemahnya manajemen dan sistem pengawasan, rendahnya apresiasi masyarakat pengguna terhadap profesi pustakawan, serta kurang jelasnya jenjang karir pustakawan. Hal ini ditemukan dalam penelitiannya yang meneliti faktor penyebab stres kerja pustakawan pada perpustakaan Universitas Sumatera Utara.

Dalam dunia industri yang menggunakan kekuatan fisik, penyebab stres berbeda dengan penyebab stres pada pustakawan yang cenderung menggunakan kekuatan  pikiran. Pada suatu industri yang bekerja selama 24 jam non stop ada sistem yang diberlakukan disana yaitu sistem kerja shift. Shift itu dibagi menjadi shift harian, yaitu pagi, siang dan malam atau rotate shift, yaitu sistem kerja shift yang diputar. Sistem kerja shift merupakan cara pengaturan kerja yang memberi peluang untuk memanfaatkan seluruh waktu yang tersedia dalam pengoperasian pekerjaan, yaitu adanya pergantian secara kontinyu antara individu karyawan satu dengan individu yang lain, atau antara kelompok karyawan satu dengan kelompok karyawan lain (berbeda divisi) dalam suatu periode tertentu. Hampir seluruh instansi atau perusahaan menerapkan sistem ini.

Monk & Tepas (Munandar, 2001) menyatakan bahwa kerja shift malam merupakan sumber utama dari stres bagi para pekerja pabrik. Biasanya orang yang bekerja pada shift malam gampang terkena penyakit dan mudah cepat lelah, karena kebiasaan pada malam hari adalah istirahat. Keluhan yang paling sering dilontarkan para pekerja shift malam adalah kelelahan dan gangguan perut. Hal ini terjadi karena pengaruh emosional dan biologikal, karena gangguan ritme circadian dari tidur (wake cycle), pola suhu, dan ritme pengeluaran adrenalin. Dampak dari adanya sistem shift kerja adalah terjadinya peningkatan kelelahan pada tenaga kerja, terutama yang bekerja pada shift malam yang juga merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penurunan kesehatan karyawan dan juga berpengaruh terhadap produktivitas kerja.

            Menurut Sutherland dan Cooper (Munandar, 2001) para pekerja yang biasa bekerja shift lama kelamaan akan berkurang stresnya secara fisik. Hal ini terjadi pada  pekerjaan-pekerjaan shift yang mempunyai sistem pergantian shift siang dan malam selama 7 atau 14 hari berturut-turut tanpa adanya istirahat, dan kemudian memperoleh istirahat 7 atau 14 hari cuti rumah. Pekerjaan yang mempunyai sistem shift seperti ini antara lain pekerja rig lepas pantai.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa berdasarkan pendapat para ahli, sistem shift dapat menjadi sumber stres kerja bagi karyawan. Berkaitan dengan hal itu penulis tertarik untuk meneliti: Apakah ada perbedaan stres kerja pada karyawan yang bekerja  pada  shift pagi, siang, dan malam di PT Amitex Pekalongan?

 B.  Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan stres kerja akibat perbedaan shift pagi, siang, dan malam pada PT Amitex Pekalongan.

Print Friendly
PERBEDAAN STRES KERJA BERDASARKAN SISTEM SHIFT KERJA KARYAWAN PADA PT. AMITEX

Leave a Reply