Referensi Jurnal Skripsi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Investasi pada hakekatnya merupakan kegiatan mengikatkan dana pada satu atau lebih jenis aset untuk jangka waktu tertentu, dengan tujuan mendapatkan manfaat ekonomis yang optimal. Bagi sebagian besar orang, investasi merupakan upaya untuk mengoptimalkan hasil dari sisa penghasilan yang mereka miliki dengan memanfaatkan berbagai sarana investasi yang ada dan berharap uang yang diinvestasikan akan bertambah dikemudian hari.  Untuk dapat mengoptimalkan investasi tersebut, Zaenal Arifin (2005: 21) mengatakan bahwa mengatur waktu penundaan konsumsi sekarang cukup penting, untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar di masa mendatang. Dari pernyataan tersebut bisa diketahui bahwa untuk berinvestasi perlu mengetahui kondisi yang sedang terjadi dan apa saja yang menjadi penyebabnya.

Ada beberapa sarana berinvestasi, Menurut Sunariyah (1997: 2) bentuk investasi dibedakan menjadi 2 bagian utama, investasi dalam aktiva riil (real assets) dan investasi dalam bentuk aktiva keuangan (financial assets). Investasi aktiva riil merupakan jenis investasi yang memiliki karakteristik kurang likuid jika dibandingkan dengan aktiva keuangan, contohnya perak, intan, barang-barang seni dan real estate, sedangkan aktiva keuangan adalah surat-surat berharga yang pada dasarnya merupakan klaim atas aktiva riil yang dikuasai oleh suatu entitas. Untuk berivestasi pada aktiva keuangan, investor bisa memanfaatkan pasar uang dan / atau pasar modal di suatu negara.

Pasar modal menurut Suad Husnan (1994:3) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan (sekuritas) jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk surat hutang (obligasi) ataupun surat modal sendiri (saham), yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorites, maupun perusahaan swasta.

Para investor maupun fund manager yang terlibat dalam perdagangan surat berharga harus menyadari bahwa melakukan investasi di pasar  modal setidaknya harus memperhatikan 2 hal yaitu keuntungan (return) yang akan didapatkan dan risiko (risk) yang mungkin terjadi. Charles P. Jones (1998: 139) mengatakan bahwa “The component of return, 1) Yield the income component of a security return, 2) Capital Gain (loss) the change in price on a security over some period.. (ada 2 komponen dalam return, pertama,  tingkat keuntungan  dari pengembalian penjualan saham. kedua, laba atau kerugian sebagai akibat dari perubahan harga surat berharga dalam pada beberapa waktu). Sedangkan risiko (risk) menurut Charles P. Jones (1998,10)  risk the chance that actual return on an investmenst will be differecen from the expexted return. (risiko merupakan  perubahan pengembalian aktual berbeda dari tingkat pengembalian yang diharapkan).

Pada setiap instrumen investasi terutama finacial asset, calon investor akan dihadapkan dengan adanya tingkat pengembalian dan risiko yang akan terjadi. Tingkat pengembalian yang bisa didapatkan berasal dari capital gain untuk jangka pendek dan deviden dalam jangka panjang, sedangkan risiko yang dihadapi oleh calon investor bisa berasal dari dalam perusahaan dan luar perusahaan. Risiko yang berasal dari dalam perusahaan sering disebut dengan risiko tidak sistematis atau terdeversifikasi dan risiko yang berasal dari luar perusahaan disebut dengan risiko sistematis. Kedua risiko ini bersama – sama akan membentuk risiko total ( gambar 1.1)

Gambar 1.1

Risiko Sistematis dan Tidak Sistematis

Sumber : Fabozzi, 1999 : 96

Menurut Sharpe dalam Fabozzi (1999: 96) risiko tidak sistematis merupakan perubahan aktiva yang dapat didiversifikasi, risiko ini sering juga di sebut sebagai risiko yang dapat didiversifikasi, risiko unik, risiko residual atau risiko khusus perusahaan contoh dari risiko tidak sistematis ini adalah pemogokan kerja, tuntunan hukum atau bencana alam. Sedangkan Risiko sistematis merupakan tingkat minimum risiko yang dapat diperoleh bagi suatu portofolio melalui diversifikasi sejumlah besar aktiva yang dipilih secara acak. Risiko sistematis sebagai bagian dari perubahan aktiva yang dapat dihubungkan kepada faktor umum, risiko ini kadang disebut juga risiko pasar atau risiko tidak dapat dibagi atau diversifikasi. Risiko sistematis merupakan risiko yang berasal dari kondisi ekonomi dan kondisi pasar secara umum yang tidak dapat didiversifikasi.

Hubungan antara kondisi makro ekonomi dengan pasar modal digambarkan oleh Robert E Hall dan Marc Lieberman (2005: 518) seperti pada gambar 1.2 .

Gambar 1.2

Hubungan Antara Pasar Modal dan Makro Ekonomi

Sumber: Hall dan Lieberman (2005: 518

Dari gambar di atas, tampak bahwa hubungan antara makro ekonomi dengan pasar modal (saham) terjadi secara langsung, apabila ada perubahan  pada makro ekonomi akan berakibat pula pada kondisi pasar modal terutama harga saham,  begitu pula sebaliknya. Hal ini didukung oleh  Eduardus Tandelilin (2001: 210) yang mengatakan bahwa, pasar modal mencerminkan apa yang terjadi pada perekonomian makro karena nilai investasi ditentukan oleh aliran kas yang diharapkan, serta tingkat return yang disyaratkan atas investasi tersebut.

Untuk menganalisis suatu saham ada dua pendekatan yang bisa dilakukan yaitu pendekatan secara fundamental dan pendekatan secara teknikal. Pendekatan fundamental menurut Menurut Djoko Santoso dan Agus Sabardi (2002: 2) adalah suatu metode peramalan pergerakan instrumen finansial di waktu mendatang berdasarkan pada perekonomian, politik, lingkungan, dan faktor relevan lainnya serta statistik yang akan mempengaruhi permintaan dan penawaran instrumen (saham, obligasi) finansial tersebut. Selain mendasarkan perhitungan dengan melihat faktor-faktor di atas, analisis fundamental juga bisa dilakukan dengan melihat kondisi internal perusahaan, seperti yang dikatakan oleh Jogiyanto (2000: 69) bahwa “…untuk menghitung nilai instrinsik saham maka analisis bisa menggunakan data keuangan yang berasal dari dalam suatu perusahaan”. Sehingga bisa disimpulkan bahwa pendekatan fundamental bisa dilakukan dengan menganalisis faktor fundamental dari internal perusahaan yang mendasarkan analisis dari data keuangan perusahaan, dan analisis fundamental yang didasarkan pada faktor fundamental yang berasal dari eksternal perusahaan seperti faktor ekonomi.

Dari dua pendapat di atas, maka bisa ditarik suatu benang merah bahwa risiko yang akan dihadapi oleh investor berasal dari dua sisi yaitu faktor internal dan ekternal. Untuk mengetahui tingkat pengembalian dan risiko dari dalam perusahaan maka investor bisa menganalisis dari sumber – sumber laporan keuangan yang ada di perusahaan tersebut, misalnya dengan melihat posisi neraca maupun rugi laba selama periode tertentu. Maka kinerja perusahaan akan bisa terlihat dengan menggunakan rasio – rasio  seperti rasio hutang usaha terhadap modal perusahaan, ratio likuiditas dan sebagainya. Apabila setelah dilakukan analisis keuangan ditemukan ada indikator kinerja perusahaan mengalami penurunan, investor bisa memindahkan investasinya pada perusahaan yang memiliki kinerja yang bagus.

Sedangkan untuk mengetahui risiko yang berasal dari ekternal perusahaan hal yang bisa dilakukan adalah dengan melihat adanya perkembangan ekonomi, perkembangan politik, keamanan dan sebagainya. Perkembangan ekonomi sebagai salah satu sumber risiko sistematis harus mendapatkan perhatian cukup besar bagi investor, hal ini disebabkan risiko sistematis menyebabkan aktiva keuangan tidak dapat didiversifikasi untuk mengurangi risiko yang terjadi. Dengan mengetahui keterkaitan antara perkembangan makro ekonomi, suku bunga The fed, dan satu lagi variabel yang sering dilihat oleh investor adalah volume perdagangan saham. Dengan melihat dan mengalisis semua variabel ini diharapkan investor akan bisa meminimalisir tingkat risiko sistematis. Sehingga patut dicermati dan dilakukan penelitian untuk membuktikan adanya pengaruh perkembangan makro ekonomi dan suku bunga The fed dan volume pedagangan saham terhadap harga saham, dalam hal ini adalah saham perbankan.

Dari uraian di atas, maka pada penelitian ini mencoba untuk melihat pengaruh variabel – variabel  yang berasal dari makro ekonomi seperti Inflasi, Jumlah Uang Beredar, Kurs Dollar Terhadap Rupiah, Tingkat suku bunga SBI, Suku bunga The fed dan Volume Perdagangan Saham. Selain sebagai sumber risiko sistematis yang tidak dapat dilakukan diversifikasi pada sektor lain, pemilihan variabel – variabel didasarkan bahwa  variabel penelitian ini memiliki informasi yang dapat digunakan untuk mendapatkan capital gain maupun deviden, karena secara teoritis variabel – variabel tersebut berdampak terhadap pergerakan harga – harga saham dipasar modal, dalam hal ini yang dimaksudkan dengan harga saham adalah harga – harga saham sektor perbankan.

Hasil yang harapkan dari penelitian ini adalah memberikan gambaran yang tepat bagi regulator maupun investor untuk memutuskan suatu kebijakan investasi dimasa depan, yaitu dengan memanfaatkan informasi yang berkembang pada makro ekonomi, suku bunga the fed dan volume perdagangan saham. Dengan melakukan pengujian secara statistik, akan memberikan gambaran empiris dan lebih jelas bagaimana dan seberapa besar pengaruhnya variabel – variabel tersebut bisa mempengaruhi harga saham – saham perbankan. Bagi Regulator, hasil penelitian ini bisa bermanfaat untuk membantu menstabilkan suatu pasar, terutama pasa saham dengan mengontrol variabel di pasar lain. Sebagai contoh, regulator dapat mencegah terjadinya gejolak pada pasar modal dengan mengontrol Kurs Dollar terhadap Rupiah dan Jumlah Uang Beredar. Dengan mengamati dan menganalisis variabel-variabel tersebut, diharapkan dapat dijadikan Leading Indicator bagi investor dalam membuat keputusan berinvestasi pada saham – saham perbankan di Pasar Modal.

Dari latar belakang di atas, maka penelitian ini mengambil judul “ PENGARUH VARIABEL MAKRO EKONOMI, SUKU BUNGA  THE FED, dan VOLUME PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP HARGA SAHAM PERBANKAN TAHUN 2004 – 2006 DI BURSA EFEK JAKARTA (BEJ).

1.2 Rumusan Masalah

Penelitian ini fokus pada hubungan antara Inflasi, Jumlah Uang  Beredar (JUB), Kurs Dollar Amerika terhadap Rupiah, Tingkat suku bunga SBI, Volume Perdagangan Saham, dan  Suku bunga  The Fed terhadap harga saham Perbankan, serta mencari variabel bebas yang dominan mempengaruhi harga saham perbankan. Sehingga permasalahan yang di angkat dalam penelitian ini adalah :

  1. Apakah ada pengaruh antara variabel Inflasi, Jumlah Uang Beredar (JUB), Kurs Dollar terhadap Rupiah, Tingkat suku bunga  SBI, Volume  Perdagangan Saham, dan Suku bunga The Fed terhadap harga saham Perbankan?
  2. Manakah di antara variabel Inflasi, Jumlah Uang Beredar (JUB), Kurs Dollar terhadap Rupiah, Tingkat suku bunga SBI, Volume Perdagangan Saham, dan Suku bunga The Fed yang paling berpengaruh terhadap harga saham perbankan?

Tulisan terkait:

tags for the article:

Jurnalskripsi.com » PENGARUH VARIABEL MAKRO EKONOMI, SUKU BUNGA THE FED DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP HARGA SAHAM PERBANKAN TAHUN 2004-2006 DI BURSA EFEK JAKARTA (BEJ)

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk file/softcopy langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Telpon kami langsung atau ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509 atau 0274-9300600

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment. Login »