Referensi Jurnal Skripsi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Adanya perkembangan jaman dan permasalahan yang sangat kompleks dalam dunia bisnis, seringkali mengakibatkan pasar mengalami kondisi ketidakpastian. Pada kondisi ketidakpastian pasar, nilai informasi yang relevan dan dapat diandalkan (reliable) yang tercermin dalam disclosure perusahaan menjadi faktor yang sangat penting. Pengungkapan (disclosure) yang detail akan memberikan gambaran kinerja dan operasionalisasi perusahaan yang sesungguhnya. Disclosure semacam inilah yang nantinya akan menimbulkan kepercayaan dari pihak stakeholder akan kinerja manajemen dan kapabilitas perusahaan (Watts and Zimmerman, 1986).

Laporan keuangan merupakan media bagi manajemen perusahaan untuk mengkomunikasikan informasi yang berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Menurut SAK (Standar Akuntansi Keuangan), tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Susanto (1992) menyatakan bahwa informasi yang terkandung dalam laporan keuangan sangat penting sebagai dasar untuk mengalokasikan dana-dana investasi secara efisien dan produktif. Pengungkapan informasi keuangan dan informasi relevan lainnya dalam laporan tahunan suatu perusahaan merupakan aspek penting akuntansi keuangan. Informasi tersebut berguna bagi para pemakainya, terutama investor untuk pengambilan keputusan. Perusahaan memberikan pengungkapan melalui laporan tahunan yang telah diatur oleh Bapepam (mandatory disclosure), maupun melalui pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) sebagai tambahan pengungkapan minimum yang telah ditetapkan. Fakta mengungkapkan bahwa disclosure perusahaan masih banyak yang belum memadai dimana tingkat kedetailan (degree of detail), ketepatan waktu (timeless), dan kejelasan (clarity) dari disclosure belum terpenuhi. D

alam memenuhi kualitas degree of detail, maka disclosure atas laporan keuangan harus dapat menyajikan informasi yang memenuhi kriteria tingkat kedetailan dari disclosure (Baridwan, 2001). Informasi akuntansi keuangan yang tepat waktu berarti informasi tersebut disampaikan pada saat dibutuhkan untuk pengambilan keputusan. Disclosure atas informasi akuntansi juga harus memenuhi karakteristik clarity yaitu pengungkapan yang mampu menyampaikan informasi yang bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus dan jujur (Harahap, 1996). Informasi yang diungkapkan oleh emiten di pasar modal mempunyai peranan penting bagi para pelaku pasar. Informasi yang dimiliki para pelaku pasar dapat bersifat tidak simetris, sehingga seringkali disebut asimetri informasi (Subekti dan Suprapti, 2002). Asimetri informasi dapat terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antara manajemen dan pemilik modal.

Dalam upaya meningkatkan nilai perusahaan, manajemen dapat memberikan sinyal informasi akuntansi kepada pemegang saham sebagai upaya untuk mengurangi adanya asimetri informasi dalam bentuk pengungkapan (Komalasari dan Baridwan, 2001). Aktivitas yang dilakukan investor di pasar modal ditentukan oleh informasi yang diperoleh baik secara langsung (laporan publik) maupun tidak langsung (insider trading). Oleh karena pelaku pasar modal mempunyai kemampuan yang terbatas terhadap persepsi masa yang akan datang, maka adanya asimetri informasi akan menimbulkan masalah adverse selection yang mendorong dealer untuk menutupi kerugian dari pedagang terinformasi dengan meningkatkan spread-nya terhadap pedagang likuid (Murni, 2003).

Elliot dan Jacobson (1994) menyatakan bahwa manajemen akan mengungkapkan informasi secara sukarela jika manfaat yang diperoleh dari pengungkapan informasi tersebut lebih besar dari biayanya. Penelitian Verrecchia (1991) menunjukkan bahwa dengan mengungkapkan informasi privat maka tuntutan investor terhadap kompensasi menurun karena biaya transaksi turun sehingga komponen adverse selection dan bid-ask spread berkurang dan pada akhirnya cost of equity capital juga turun. Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Khomsiyah dan Susanti (2003) dengan beberapa perbedaan. Perbedaan yang utama terletak pada item pengungkapan yang digunakan yaitu pengungkapan wajib yang telah ditetapkan oleh Bapepam (mandatory disclosure) khususnya untuk akun-akun riil dan nominal. Selain itu, metode pengukuran yang digunakan lebih sederhana dibandingkan dengan penelitian sebelumnya. Berdasarkan uraian di atas penelitian ini berjudul “Pengaruh Pengungkapan dan Asimetri Informasi terhadap Cost of Capital pada Perusahaan Publik di Indonesia”.

1.2. Motivasi Penelitian

Motivasi penelitian ini adalah sedikitnya penelitian empiris yang mendukung tinjauan secara teoritis dan analitis mengenai keterkaitan antara pengungkapan, likuiditas, dan cost of capital. Penelitian sebelumnya lebih banyak menguji hubungan antara pengungkapan informasi akuntansi dan cost of capital secara tidak langsung. Penelitian empiris yang secara langsung menguji hubungan antara pengungkapan informasi dan cost of capital ialah Botosan (1997). Di samping itu, adanya ketidakkonsistenan pada hasil penelitian terdahulu mengenai manfaat dari semakin luasnya pengungkapan mengakibatkan penelitian untuk mengetahui hubungan antara pengungkapan informasi (disclosure) dan asimetri informasi terhadap cost of capital penting untuk dilakukan

1.3. Perumusan Masalah

Pengungkapan informasi baik keuangan maupun non keuangan dalam laporan keuangan tahunan suatu perusahaan sangat berperan penting bagi pelaku pasar. Informasi ini berguna dalam pengambilan keputusan, terutama bagi investor. Oleh karena itu, untuk mengurangi adanya asimetri informasi, informasi yang tercermin dalam laporan keuangan harus bersifat relevan dan andal. Hubungan di antara informasi akuntansi dan cost of capital merupakan salah satu permasalahan yang paling mendasar dalam akuntansi. Adanya pengungkapan informasi yang tidak sempurna akan mengakibatkan para investor menangung risiko dalam peramalan keuntungan di masa datang yang akan diperoleh dari investasinya. Oleh karenanya, perusahaan dengan indeks pengungkapan yang tinggi akan mempunyai cost of capital yang rendah karena risiko informasinya rendah. Ketidakseimbangan penerimaan informasi karena salah satu pihak memiliki informasi yang lebih banyak, yang biasa disebut dengan asimetri informasi, mengakibatkan kerugian bagi para investor. Hal ini dikarenakan, para investor menginginkan return yang tinggi sedangkan informasi yang tersedia kurang sempurna, sehingga investor harus menambah biaya pemrosesan informasi.

Berdasarkan uraian di atas, maka masalah yang hendak dijawab melalui penelitian ini adalah:

  1. Apakah terdapat pengaruh dari pengungkapan wajib terhadap asimetri informasi?
  2. Apakah terdapat pengaruh dari pengungkapan wajib terhadap cost of capital?
  3. 3. Apakah terdapat pengaruh dari asimetri informasi terhadap cost of capital?

Judul terkait:

tags for the article:

ASIMETRI INFORMASI (54), pengungkapan informasi akuntansi (30), informasi asimetri (18), pengertian voluntary disclosure (12)
PENGARUH PENGUNGKAPAN dan ASIMETRI INFORMASI terhadap COST of CAPITAL pada PERUSAHAAN PUBLIK di INDONESIA

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk file/softcopy langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Telpon kami langsung atau ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509 atau 0274-9300600

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Leave a Reply

Current day month ye@r *