Referensi Jurnal Skripsi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pasar modal telah menjadi instrumen perekonomian yang sangat penting untuk sebuah negara. Disamping sebagai alternatif tempat untuk investasi dan pembiayaan, pasar modal juga dapat dijadikan indikator bagi perkembangan perekonomian sebuah negara.

Sebagai tempat berinvestasi pasar modal mempertemukan unit surplus (investor) dengan unit defisit (perusahaan-perusahaan) untuk melakukan alokasi modal diantara mereka.   Pasar modal adalah   sumber dana segar jangka panjang, yang keberadaan institusi  ini  tidak  hanya  sebagai  wahana  sumber  pembiayaan  tetapi  juga  sebagai sarana investasi yang melibatkan seluruh potensi masyarakat (Suta 2000, 17). Di pasar  modal  para  investor  dapat  secara  efisien  memantau  perusahaan-perusahaan tempat dia telah atau akan berinvestasi, hal ini wajar mengingat otoritas pasar modal telah   memberlakukan   prinsip   transparansi   sebagai  syarat   utama perusahaan- perusahaan yang akan listing di pasar modal.

Perusahaan akan melakukan corporate action dalam rangka memenuhi tujuan- tujuan tertentu misalnya pembayaran kewajiban jatuh tempo, perluasan usaha, meningkatkan likuiditas dan tujuan perusahaan lainnya. Umumnya corporate action mempunyai  pengaruh  yang  signifikan  terhadap  kepentingan  pemegang  saham, karena pada corporate action yang dilakukan umumnya berpengaruh pada jumlah saham  yang  beredar,  komposisi  kepemilikan  saham,  jumlah  saham  yang  akan dipegang pemilik saham serta pengaruhnya terhadap pergerakan harga saham. Salah satu bentuk dari corporate action adalah right issue.

Berkaitan dengan hal itu penawaran terbatas atau disebut right issue merupakan salah satu cara yang ditempuh untuk memperoleh sumber dana. Dalam Ghozali dan Solichin (2003), terdapat dua alasan bagi perusahaan untuk melakukan right issue: pertama, dapat mengurangi biaya karena right issue biasanya tidak menggunakan jasa penjamin (underwriter). Kedua, right issue menyebabkan jumlah saham perusahaan yang ada akan bertambah sehingga diharapkan akan meningkatkan frekuensi perdagangan atau yang berarti meningkatkan likuiditas saham.

Right  issue dilakukan  dengan  menawarkan  terlebih  dahulu  sekuritas  baru kepada  pemegang  saham  lama  untuk  membeli  saham  baru  tersebut  pada  harga tertentu dan pada jangka waktu tertentu pula. Agar pemegang saham lama berminat untuk membelinya, maka perusahaan akan menawarkan saham baru itu dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga pasar (Ghozali dan Solichin, 2003). Investor lama  memiliki  preemptive  right atau  hak  untuk  lebih  dahulu  membeli  tambahan saham yang diterbitkan agar dapat mempertahankan proporsi kepemilikan mereka sehingga  para  pemegang  saham  bisa  mempertahankan  kekuasaan  pengendalian mereka atas perusahaan. Karena merupakan hak, maka investor tidak terikat untuk harus membeli saham baru yang dikeluarkan oleh perusahaan. Apabila investor tidak mau menggunakan haknya, maka dia dapat menjual right yang dimilikinya. Menurut Hartono (1998:74), alasan bagi investor membeli saham hasil right issue adalah membuat mereka lebih mudah mempertahankan proporsi kepemilikan sahamnya dan untuk melindungi dari kemerosotan nilai saham.

Pengumuman  perusahaan  yang  melakukan  right  issue,  secara  teoritis  dan empiris telah menyebabkan harga saham bereaksi secara negatif, dan ini adalah kejadian yang diakibatkan oleh systematic risk. Beberapa temuan empiris tersebut diantaranya adalah: Scholes (1972), Marsh (1979), Asquith dan Mullins (1986), Masulis dan Korwar (1986), Myers dan Majluf (1984), Barclay dan Litzenberger (1988), Mikkelson dan Partch (1986), dan Kothare (1997). Temuan empiris tersebut menunjukkan bahwa nilai pasar perusahaan turun sampai 3% pada saat pengumuman penambahan saham baru.

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp350ribu Rp300ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk file/softcopy langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Telpon kami langsung atau ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509 atau 0274-9300600

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Beberapa temuan empiris tersebut diatas konsisten dengan model signalling theory yang mengasumsikan adanya informasi asimetri diantara berbagai partisipan di pasar modal. Model tersebut menyatakan bahwa pasar akan bereaksi secara negatif karena adanya pengumuman penambahan saham baru yang mengindikasikan adanya informasi yang tidak menguntungkan (bad news) tentang kondisi laba di masa akan datang, khususnya jika dana dari right issue akan digunakan untuk tujuan perluasan investasi yang mempunyai NPV sama dengan 0 atau negatif. Harga saham setelah right issue secara teoritis akan mengalami penurunan. Hal tersebut wajar karena harga pelaksanaan right issue lebih rendah dari harga pasar. Tetapi penurunan harga saham dengan adanya pengumuman right issue berdasarkan bukti-bukti empiris tersebut diatas ditemukan tidak signifikan. Penurunan harga saham hanya berkisar antara 2-3% dan setelah itu terjadi koreksi kenaikan harga saham kembali pada posisi awal sebelum adanya penumuman.

Menurut Syam dan Harianto (2003), perkembangan harga saham dan volume perdagangan saham di pasar modal merupakan indikator penting untuk mengetahui tingkah laku pasar, yaitu investor. Kebijakan right issue merupakan upaya emiten untuk menghemat biaya emisi serta menambah jumlah saham yang beredar. Jadi dengan adanya right issue, kapitalisasi pasar saham akan meningkat dalam persentase yang lebih kecil daripada persentase jumlah lembar saham yang beredar. Umumnya diharapkan penambahan jumlah lembar saham dipasar akan meningkatkan frekuensi perdagangan saham tersebut atau dengan kata lain dapat meningkatkan likuiditas saham.

Kothare (1997) menemukan bukti bahwa likuiditas saham meningkat secara signifikan setelah pengumuman saham baru. Peningkatan volume perdagangan saham tersebut ditemukan mempunyai korelasi dengan perubahan struktur kepemilikan saham, dimana right issue lebih diutamakan untuk tujuan konsentrasi kepemilikan dari pada perluasan kepemilikan. Tetapi Sheehan dkk.(1997) menemukan bukti yang berbeda dengan dengan temuan Kothare, yaitu bahwa likuiditas saham perusahaan yang diukur dengan jumlah volume perdagangan saham meningkat dari keadaan yang normal  justru  sebelum  adanya  pengumuman.  Peningkatan  volume  perdagangan saham ini disebabkan adanya aktivitas short selling yang dilakukan oleh para spekulator.

Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian Budiarto dan Baridwan (1999) karena peneliti ingin menguji generalisasi hasil dari penelitian ini dengan menggunakan sampel dan estimasi return yang berbeda. Adapun perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Budiarto dan Baridwan (1999) adalah: sampel yang digunakan pada penelitian terdahulu merupakan perusahaan-perusahaan yang melakukan  right  issue di  Bursa  Efek  Jakarta  tahun  1994-1996.  Sedangkan  pada penelitian ini sampel yang digunakan yaitu perusahaan-perusahaan yang melakukan right issue di Bursa Efek Jakarta tahun 2000-2004. Motivasi dari penelitian ini adalah peneliti ingin melihat generalisasi hasil jika diteliti pada periode sesudah krisis karena penelitian   Budiarto   dan   Baridwan   (1999)   dilakukan   sebelum   krisis   moneter sedangkan penelitian ini dilakukan sesudah krisis moneter. Berdasarkan uraian dan latar belakang diatas, penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul :

“PENGARUH PENGUMUMAN RIGHT ISSUE TERHADAP TINGKAT KEUNTUNGAN DAN LIKUIDITAS SAHAM DI BURSA EFEK JAKARTA (Studi Empiris Pada Perusahaan-perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2000-2004)

1.2 Batasan Masalah

Dalam penelitian ini penulis membatasi masalah yang diajukan, yaitu sebagai berikut :

  1. Pengamatan dilakukan terhadap perusahaan-perusahaan yang menerbitkan right issue dalam kurun waktu 5 tahun yaitu tahun 2000 – 2004.
  2. Emiten tidak mengeluarkan publikasi informasi lainnya bersamaan dengan pengumuman right issue seperti, publikasi stock split (pemecahan saham), pengumuman merger dan akuisisi, pengumuman deviden, serta bonus share.
  3. Perusahaan-perusahaan yang mengeluarkan right issue yang dijadikan sampel penelitian harus dalam kondisi laba agar dana dari right issue benar-benar digunakan untuk ekspansi perusahaan.

1.3 Perumusan Masalah

Berdasarkan  latar  belakang  masalah  diatas,  maka  perumusan  masalah  yang diteliti dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Apakah pengumuman right issue menghasikan abnormal return bagi investor ?
  2. Apakah  ada  perbedaan  abnormal  return saham  antara  sebelum  dan  sesudah dikeluarkannya pengumuman right issue ?
  3. Apakah ada perbedaan volume perdagangan saham antara sebelum dan sesudah dikeluarkannya pengumuman right issue?
Print Friendly, PDF & Email

tags for the article:

right issue (54)
PENGARUH PENGUMUMAN RIGHT ISSUE TERHADAP TINGKAT KEUNTUNGAN DAN LIKUIDITAS SAHAM DI BURSA EFEK JAKARTA (Studi Empiris Pada Perusahaan-Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2000-2004)

Leave a Reply