Referensi Jurnal Skripsi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang Masalah

Laporan keuangan merupakan alat komunikasi antara pihak internal perusahaan yaitu pihak manajemen dengan pihak eksternal yang terkait dengan perusahaan. Tujuan umum laporan keuangan menurut PSAK No. 1 paragraf 05 adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggung jawaban manajemen atas pengguna sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Laporan keuangan yang lengkap meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan (PSAK No. 1 paragraf 07). Laporan keuangan diharapkan dapat menyediakan informasi mengenai kinerja keuangan perusahaan dan bagaimana manajemen perusahaan bertanggung jawab kepada pemilik.

Laporan keuangan neraca, laporan laba rugi dan laporan perubahan ekuitas disusun dengan dasar akrual, adapun laporan arus kas disusun dengan dasar kas. Dasar akrual dipilih karena lebih rasional dan adil dalam mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara riil, namun penggunaan dasar akrual dapat memberikan keleluasaan kepada pihak manajemen dalam memilih metode akuntansi selama tidak menyimpang dari aturan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku. Metode akuntansi yang secara sengaja dipilih oleh manajemen untuk tujuan tertentu dapat mengarah pada praktik manajemen laba atau earnings management.

Manajemen laba adalah penataan laba yang dilakukan ketika manajer menggunakan kebijakannya dalam laporan keuangan dan penyusunan transaksi alternatif dalam penyajian laporan keuangan dengan tujuan untuk memberikan petunjuk yang salah pada stakeholders mengenai kinerja ekonomi perusahaan atau mempengaruhi dampak hukum yang didasarkan pada angka akuntansi yang dilaporkan (Healy and Wahlen, 1999)

Manajemen laba adalah campur tangan manajemen dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan pihak tertentu. Manajemen laba menambah bias dalam laporan keuangan dan dapat mengganggu pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa (Setiawati dan Naim, 2000).

Menurut Scott (2003) manajemen laba adalah pemilihan kebijakan akuntansi oleh manajer untuk mencapai tujuan khusus. Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa terdapat dua cara yang saling melengkapi dalam berfikir tentang manajemen laba. Pertama, perilaku oportunistik manajemen untuk memaksimumkan utilitasnya dalam kompensasi, kontrak dan kas politik. Kedua, perspektif kontrak efisien ketika manajemen laba dilakukan untuk menguntungkan semua pihak yang terlibat dalam kontrak. Akan tetapi manajemen laba sering disimpulkan sesuatu yang tidak baik untuk dilakukan oleh manajemen, sehingga banyak definisi yang menekankan manajemen laba sebagai suatu perilaku oportunistik manajemen.

Motivasi manajemen laba adalah keinginan manajer atau perusahaan untuk minimalisasi biaya (Scott, 2003), yang meliputi transfer kekayaan yang harus ditanggung perusahaan berkaitan dengan undang-undang antitrust, regulasi, subsidi pemerintah, pajak, tarif, tuntutan karyawan, dan sebagainya. Pemicu lain adalah adanya ketidaksamaan insentif antara manajer dan pemegang saham, dapat menyebabkan manajer menggunakan fleksibilitas yang diperbolehkan dalam standar akuntansi untuk melakukan manajemen laba. Kelompok pemicu ketiga adalah keinginan manajemen untuk menyampaikan informasi kepada pihak luar secara berlebihan untuk meningkatkan kepercayaan pihak eksternal pada perusahaan, atau dikenal dengan informative earnings management (Gul, et. al., 2003).

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp350ribu Rp300ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk file/softcopy langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Telpon kami langsung atau ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509 atau 0274-9300600

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Setiawati dan Naim (2000) merangkum berbagai hasil penelitian terdahulu untuk mendeteksi faktor-faktor penyebab terjadinya praktek manajemen laba yang terdiri dari praktek peningkatan laba dan praktek penurunan laba. Praktek peningkatan laba terdiri dari tindakan manajer untuk meningkatkan laba bila sedang pada pelanggaran kesepakatan kredit untuk melaporkan kinerja yang baik pada kreditur, memaksimalkan kompensasi yang didasarkan pada kinerja akuntansi, memperoleh atau mempertahankan kendali perusahaan, pertimbangan pasar modal pada saat penawaran perdana, serta pertimbangan memperbaiki kinerja yang dilaporkan pada stakeholder. Sedangkan praktek penurunan laba dilakukan manajer untuk memperoleh penghematan pajak, menyiasati peraturan pemerintah misalnya untuk meminimalkan jumlah denda atau menurunkan discretionary accrual untuk mendapatkan fasilitas pemerintah, dan pertimbangan kondisi persaingan untuk mencegah masuknya pesaing baru.

Hubungan antara leverage perusahaan dengan manajemen laba telah diteliti oleh Gul et,.al (2003). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif signifikan antara leverage perusahaan dengan praktik manajemen laba. Sejalan dengan debt covenant hypothesis, perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi termotivasi untuk melakukan manajemen laba agar terhindar dari pelanggaran perjanjian utang. Hasil penelitian dari Gul et al., (2003) ini sesuai dengan hasil penelitian dari Halim, Meiden dan Tobing (2005) dan Guenther (1994). Akan tetapi hasil penelitian tersebut berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Lobo dan Zhou (2001) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif signifikan antara leverage perusahaan dan manajemen laba.

Gul et,.al (2003) menguji hubungan antara ukuran perusahaan yang diwakili nilai logaritma dari aset dengan discretionary accrual. Hasilnya menunjukkan hubungan negatif signifikan atau dapat diartikan bahwa semakin tinggi ukuran perusahaan, perusahaan semakin cenderung menurunkan discretionary accrual. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Guenther (2004) dan Siregar & Utama (2005).

Penelitian tentang hubungan antara manajemen laba dengan corporate governance telah dilakukan oleh Siregar & Utama (2005). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa corporate governance yang diproksi dengan menggunakan ukuran KAP tidak terbukti mempunyai pengaruh signifikan terhadap praktik manajemen laba.

Deteksi atas kemungkinan dilakukannya manajemen laba dalam laporan keuangan diteliti melalui penggunaan estimasi total akrual. Total akrual yang tercermin dalam perhitungan laba terdiri dari discretionary accrual dan non discretionary accrual. Non discretionary accrual merupakan komponen akrual yang terjadi secara alami seiring dengan perubahan dari aktivitas perusahaan. Sebaliknya, discretionary accrual merupakan komponen akrual yang berasal dari rekayasa laba yang dilakukan manajer.

Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian-penelitian sebelumnya dengan menggunakan proksi yang berbeda dan memecah variabel leverage menjadi dua, yaitu leverage operasi dan leverage keuangan. Penelitian ini menggunakan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta periode 2003-2005. Motivasi dari penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui pengaruh leverage perusahaan, ukuran perusahaan dan corporate governance terhadap manajemen laba dengan menggunakan proksi yang berbeda sehingga didapatkan pengetahuan baru dan hasil yang maksimal.

Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini mencoba untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi manajemen laba, dengan judul:

“PENGARUH LEVERAGE PERUSAHAAN, UKURAN PERUSAHAN DAN CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP MANAJEMEN LABA (Studi Kasus Perusahaan Manufaktur Yang Listing di BEJ)”

1.2. Perumusan Masalah

Rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

  1. Apakahtingkat leverage operasi dan leverage keuangan perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba?
  2. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba?
  3. Apakah corporate governance berpengaruh terhadap manajemen laba?

Print Friendly, PDF & Email

tags for the article:

pengertian leverage (138), ukuran perusahaan (35), pengertian ukuran perusahaan (34), leverage keuangan (26), definisi ukuran perusahaan (25)
PENGARUH LEVERAGE PERUSAHAAN, UKURAN PERUSAHAAN DAN CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP MANAJEMEN LABA (Studi Kasus Perusahaan Manufaktur Yang Listing di BEJ)

Leave a Reply