Referensi Jurnal Skripsi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Kegiatan perusahaan melibatkan berbagai pihak, antara lain pemegang saham (pemilik), manajemen (manajer), dan kreditur (debtholders). Pihak-pihak ini memiliki kepentingan dengan peningkatan nilai perusahaan. Pamegang saham mengharapkan peningkatan nilai perusahaan agar meningkatkan capital gains dan dividend yield. Manajer mengharapkan peningkatan nilai perusahaan supaya meningkatkan kesejahteraannya melalui peningkatan gaji, tunjangan, dan bonus. Kreditur mengharapkan peningkatan nilai perusahaan untuk menjamin bahwa perusahaan mampu membayar pokok pinjaman dan bunga.

Pemegang saham merupakan penyandang dana perusahaan dan menyerahkan pengelolaan dana kepada manajer. Pemegang saham tidak terlibat langsung dalam aktivitas operasi harian perusahaan. Akibatnya, pemegang saham memiliki jumlah informasi yang lebih sedikit daripada manajer. Perbedaan jumlah informasi ini disebut asymmetric information. Asymmetric information merupakan insentif bagi manajer untuk berperilaku opportunistik. Manajer yang opportunistik akan meningkatkan kesejahteraan dirinya dengan mengabaikan nilai perusahaan dan kepentingan pemegang saham. Oleh karena itu, manajer (agen) memiliki konflik kepentingan dengan pemegang saham (prinsipal). Konflik ini menimbulkan biaya keagenan yang dipikul pemegang saham. Ross et al. (2005: 14-15) menjelaskan bahwa biaya keagenan merupakan biaya konflik kepentingan antara pemegang saham, kreditur, dan manajer. Biaya ini meliputi biaya insentif dan pengawasan agar manajer memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham, serta biaya perlindungan kreditur dari pemegang saham.

Biaya keagenan dapat dikendalikan dengan peningkatan utang (Jensen and Meckling, 1976). Peningkatan utang akan menurunkan biaya keagenan. Argumennya bahwa peningkatan utang akan menggeser biaya pengawasan perusahaan dari pemegang saham kepada kreditur. Kreditur memiliki jumlah informasi yang lebih sedikit daripada manajer dan pemegang saham. Asymmetric information ini menjadi alasan bagi kreditur untuk menambahkan premi risiko pada tingkat bunga utang. Akibatnya, biaya pendanaan utang akan lebih mahal daripada pendanaan internal (pendanaan dari sumber saldo laba). Oleh karena itu, manajer dan pemegang saham lebih menyukai pendanaan internal daripada pendanaan eksternal (pendanaan utang). Jika dibutuhkan dana eksternal, perusahaan memiliki preferensi untuk menggunakan utang, convertible securities, dan terakhir ekuitas (Myers, 1977). Hirarkhi pendanaan ini disebut teori pecking order. Perusahaan dengan kesempatan pertumbuhan tinggi akan menghasilkan aliran kas internal yang tinggi. Jika perusahaan berhasil, aliran kas internal akan cukup untuk mendanai investasi dan mengurangi kebutuhan pendanaan utang. Oleh karena itu, teori pecking order menyiratkan bahwa kesempatan pertumbuhan berpengaruh negatif terhadap kebijakan pendanaan utang. Peningkatan kesempatan pertumbuhan berpengaruh pada kebijakan penurunan utang. Namun, kesempatan pertumbuhan tinggi menimbulkan problem underinvestment, yaitu problem dalam hal pemegang saham menolak investasi dengan peningkatan nilai karena lebih menguntungkan kreditur. Hal ini terjadi karena pemegang saham memikul seluruh biaya proyek tetapi hanya menerima sebagian peningkatan nilai perusahaan dan sebagian peningkatan nilai perusahaan lainnya di-share dengan kreditur. Jadi, teori pecking order memprediksi bahwa kesempatan pertumbuhan tinggi akan menghasilkan aliran kas internal yang tinggi, mengurangi kebutuhan pendanaan utang, dan menimbulkan problem underinvestment.

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp350ribu Rp300ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk file/softcopy langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Telpon kami langsung atau ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509 atau 0274-9300600

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Aliran kas internal yang tinggi akan menghasilkan aliran kas yang melebihi kebutuhan (excess cash flow). Kelebihan aliran kas ini dapat digunakan secara bebas oleh manajer. Manajer dapat menggunakan kelebihan aliran kas untuk pembayaran dividen, pembayaran utang, investasi berlebihan (overinvestment), atau konsumsi berlebihan (excessive perquisities). Pembayaran dividen dan utang akan meningkatkan kesejahteraan pemegang saham dan kreditur. Overinvestment dan konsumsi berlebihan akan menurunkan nilai perusahaan dan kesejahteraan pemegang saham. Oleh karena itu, peningkatan kelebihan aliran kas akan meningkatkan biaya pengawasan yang dipikul pemegang saham (Jensen, 1986). Peningkatan aliran kas bebas akan memicu konflik antara manajer dengan pemegang saham. Teori keagenan menjelaskan bahwa peningkatan konflik antara manajer dengan pemegang saham menimbulkan biaya keagenan (pengawasan) [Jensen and Meckling, 1976]. Pemegang saham dapat mengurangi biaya pengawasan ini dengan cara menggeser kepada kreditur (debt monitoring) [Gul and Tsui, 2001]. Peningkatan kelebihan aliran kas merupakan insentif bagi pemegang saham untuk meningkatkan utang. Namun, peningkatan pendanaan utang bisa menjadi insentif bagi manajer untuk melakukan overinvestment (investasi melebihi ukuran optimal). Manajer memiliki motivasi untuk meningkatkan ukuran perusahaan. Peningkatan ukuran perusahaan akan meningkatkan gaji dan tunjangan manajer. Chen et al. (2001) menjelaskan bahwa manajer perusahaan besar biasanya memperoleh berbagai fasilitas dari perusahaan, misalnya rumah besar, mobil mewah, dan liberal expense accounts. Jadi, peningkatan kelebihan aliran kas dan ukuran perusahaan akan meningkatkan pendanaan utang.

1.2. MOTIVASI PENELITIAN

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, permasalahan ini dianggap perlu dan penting untuk diteliti karena alasan sebagai berikut:

  1. Studi ini menjelaskan hubungan antara kesempatan pertumbuhan, aliran kas bebas, dan ukuran perusahaan dengan utang yang merupakan salah satu elemen penting bagi keberlanjutan perusahaan (going concern).
  2. Faktor ketersediaan sumber pendanaan dalam perusahaan menuntut adanya struktur modal optimal yang merupakan komponen penentu dalam pengembangan potensi perusahaan.
  3. Pemegang saham, manajer, dan kreditur perlu mengetahui apakah perusahaan publik yang terdaftar di BEJ cenderung meningkatkan nilai perusahaannya dengan menggunakan sumber pendanaan internal (laba ditahan) atau sumber pendanaan eksternal (utang) [Setiawan, 2002].
  4. Aliran kas bebas (free cash flow atau FCF) belum banyak mendapat perhatian di Indonesia karena perusahaan-perusahaan tidak melaporkan secara eksplisit (Tarjo dan Hartono, 2003).

1.3. POKOK MASALAH

Berdasarkan latar belakang penelitian, pokok masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Apakah kesempatan pertumbuhan berpengaruh pada kebijakan pendanaan utang?
  2. Apakah aliran kas bebas berpengaruh pada kebijakan pendanaan utang?
  3. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh pada kebijakan pendanaan utang?

Print Friendly
PENGARUH KESEMPATAN PERTUMBUHAN, ALIRAN KAS BEBAS, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP KEBIJAKAN UTANG PERUSAHAAN

Leave a Reply