Referensi Jurnal Skripsi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Semakin  mengglobalnya arus informasi dan transportasi  yang disertai  makin meningkatnya pula perdagangan dipelbagai belahan dunia, yaitu dengan dibentuknya berbagai macam bentuk perjanjian perdagangan multilateral dan internasional yang bersifat   bebas   (GATT,WTO,AFTA,APEC). Mengakibatkan  banyak     terjadinya perpindahan tenaga kerja asing dari negara maju seperti: Eropa, Jepang  dan  Amerika menuju  negara lain di Asia  termasuk di Indonesia. Hingga  saat  ini  tidak dapat kita pungkiri bahwa globalisasi   ekonomi dibidang liberalisasi perdagangan telah mulai banyak membawa pesaing ataupun tenaga ahli yang kompeten dibidangnya dari pelbagai mancanegara memasuki pasar domestik dengan kandungan  pengetahuan tingkat dunia.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa, dan termasuk dalam salah satu negara dengan jumlah penduduk yang terbesar di dunia, serta posisi yang potensial  dalam kawasan Asia Tenggara, menjadikan Indonesia sebagai ladang bisnis yang menjanjikan sebagai sasaran pasar berbagai produk dan jasa. Sehingga diperkirakan  ketika terwujudnya perjanjian multi lateral AFTA (Asean Free Trade Center Area) dan APEC, Indonesia akan dibanjiri oleh banyak produk dan pekerja (auditor)  profesional dari luar negeri.

Dalam   menghadapi   Indonesia   baru   yang   mampu   bersaing   dalam   era globalisasi  yaitu  AFTA  dan  APEC,  diperlukan  Sumber  Daya  Manusia,  terutama sekali  auditor  dalam  negeri  yang  berkualitas,  yang  diharapkan  mampu  bersaing dengan auditor dari luar negeri. Akan  tetapi  jika kita melihat praktek yang terjadi tidaklah  demikian. Hal ini tercermin dari sikap pemerintah Indonesia yang lebih suka menggunakan jasa auditor asing, yang dipandang lebih mampu secara teknis dan indepeden  dalam  melaksanakan  jasa  audit  terhadap  beberapa  perusahaan  yang terkena  kasus. Tantangan lain yang harus dihadapi dalam abad 21 maraknya terjadi skandal manipulasi dan kecurangan atas laporan keuangan, serta berbagai kasus pelanggaran etika lainnya yang secara langsung atau tidak langsung melibatkan para

auditor didalamnya, baik dalam maupun luar negeri1 . Berbagai bukti tersebut diatas menunjukkan kepada kita bahwa adanya: 1).Penurunan kualitas citra Sumber Daya Manusia  akuntan  atau  auditor,  2).Persaingan  antara  auditor  dan  Kantor  Akuntan Publik  dalam  dan  luar  negeri  yang  sudah  semakin  ketat,  dan  3).Mulai  adanya peralihan kepercayaan terhadap kinerja auditor dan Kantor Akuntan Publik di Indonesia. Dimana masalah-masalah tersebut  harus  segera  diatasi.

Memasuki abad 21, legenda atau paradigma lama tentang anggapan bahwa IQ (Intelligence Quotient) sebagai satu-satunya tolok ukur kecerdasan, yang juga sering dijadikan parameter keberhasilan dan kesuksesan kinerja Sumber Daya Manusia, digugurkan oleh munculnya konsep atau paradigma kecerdasan lain yang ikut menentukan  terhadap kesuksesan dan keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Hasil survei statistik dan penelitian yang dilakukan Lohr, yang ditulis oleh Krugman  dalam 1  Kasus besar yang paling menarik perhatian dan menimpa dunia akuntansi di awal abad 21 adalah kasus manipulasi laporan keuangan dan persediaan   pada Enron corp. dengan KAP multi nasional Arthur Andersen & Partners  yang merupakan anggota dari the big five atau  KAP  dengan salah satu jaringan dan omzet pendapatan terbesar di seluruh dunia, yang berakibat bubarnya Arthur Andersen & partners. Di Indonesia juga pernah terjadi hal yang sama yaitu pada kasus PT.Kimia Farma Tbk, terjadinya overstated pada laba bersih per 31 Desember 2001. artikel “On The Road on Chairman Lou” (The New York Times 26/6/1994), menyebutkan bahwa IQ ternyata sesungguhnya tidak cukup untuk menerangkan kesuksesan seseorang. Ketika skor IQ dikorelasikan dengan tingkat kinerja dalam karier mereka, taksiran tertinggi untuk besarnya peran selisih IQ terhadap kinerja hanyalah sekitar 25%, bahkan untuk analisis yang lebih seksama yang dilakukan American Psycological Press (1997) angka yang lebih tepat bahkan tidak lebih dari 10%  atau bahkan hanya 4%. Hal ini berarti bahwa IQ paling sedikit tidak mampu 75%, atau bahkan 96% untuk menerangkan pengaruhnya terhadap kinerja atau keberhasilan seseorang.   Serta   menurut   penelitian         yang    dilakukan    Goleman menyebutkan pengaruh IQ hanyalah sebesar 20% saja, sedangkan 80% dipengaruhi oleh faktor lain   termasuk di dalamnya EQ. Sehingga   dengan kata   lain IQ dapat dikatakan  gagal  dalam  menerangkan   atau     berpengaruh  terhadap  kesuksesan seseorang (Goleman, 2000).

Terjadinya    pergeseran    atau    perubahan    paradigma    dimana   kesuksesan seseorang tidaklah lagi ditentukan oleh IQ atau kemampuan tekhnis, ICCA mengeluarkan  satuan  tugas  khusus  “The  Skill  for  21  century  task  force“  untuk meneliti masalah yang berhubungan dengan perubahan kualifikasi para akuntan di abad 21. Satuan tugas tersebut menemukan bahwa di abad 21 ini para akuntan (auditor) yang dibutuhkan, haruslah memiliki beberapa kompetensi dan kualifikasi antara lain, sebagai berikut (Bulo, 2002:22):

  • Keterampilan akuntansi: Kemampuan untuk menganalisa data keuangan, pengetahuan perpajakan, audit, sistem teknologi informasi dan pengetahuan tentang pasar modal.
  • Keterampilan komunikasi: Kesanggupan mendengar dengan efektif, berbicara dan menulis dengan jelas, mengerti kebutuhan orang lain, kemampuan mengungkapkan, mendiskusikan mempertahankan pandangan, memiliki empati dan mampu berhubungan dengan orang dari negara, budaya dan latar belakang sosio ekonomi yang berbeda.
  • Keterampilan negosiasi.
  • Keterampilan interpersonal: Untuk memotivasi dan mengembangkan orang lain, mendelegasikan tugas, menyelesaikan konflik, kepemimpinan, mengelola hubungan dengan orang lain dan berinteraksi dengan berbagai macam orang.
  • Kemampuan intelektual: Logika, deduktif dan pemikiran abstrak, mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah dan sanggup menyelesaikan dilema etis.
  • Pengetahuan manajemen dan organisasi: Untuk memahami aktivitas organisasi bisnis pemerintah, organisasi nirlaba, memahami budaya bisnis, dinamika kelompok, serta manajemen sumber daya.
  • Atribut personel: Integritas, keadilan etika dan komitmen untuk, belajar seumur hidup karena product life cycle pengetahuan yang semakin pendek.

Di Indonesia, Ainun Na’im (1996) dalam Laela (1997) dalam makalahnya yang berjudul “Perubahan faktor-faktor kontekstual profesi akuntan publik” menyebutkan dalam memasuki profesi akuntansi, dan dalam menghadapi perubahan tantangan globalisasi, para akuntan Indonesia khususnya, diharuskan memiliki suatu competitive advantage skill yang lebih dibandingkan  akuntan lain  untuk dapat tetap mampu bertahan (exist)   dalam menjalankan profesinya dimasa depan, diantaranya yaitu kemampuan intelektual, interpersonal dan emosional, lebih lengkapnya bentuk kualifikasi yang disyaratkan, dapat kita lihat pada gambar dibawah ini :

KETERAMPILAN SIFAT-SIFAT
Berfikir Wajar
Menyelesaikaan masalah Etik
Mendengar Mempunyai motivasi
Menulis Bersikap profesional
Menggunakan komputer Percaya diri
Melakukan analisis kuantitatif Tampil profesional
Berbicara Sifat menyenangkan
Melakukan penelitian Tegas
Berhubungan Interpersonal Sifat kepemimpinan
PENGETAHUAN
Hukum
Sosial Ekonomi
Psikologi
Akuntansi
Sumber: Na’im (1996) dalam Laela (1997).

Gambar 1.1 Profil  Profesi  Akuntan.

Dalam  perkembangan untuk menciptakan peningkatan kinerja Sumber Daya Manusia yang optimal, dan dalam menyikapi tantangan di abad 21, menurut Prof. Dadang   Hawari   guru besar dan pakar psikologi UI, kemampuan intelektual   (IQ) dan interpersonal (EQ) saja   tidaklah cukup,   tanpa disertai   dengan   kemampuan religiusitas (SQ). Beliau menyatakan bahwa pada  umumnya,  syarat  atau  kualifikasi yang  diutamakan untuk menciptakan Sumber Daya Manusia, yang unggul  menuju Indonesia  baru adalah:

  1. Sumber Daya Manusia tersebut memiliki tingkat kecerdasan (IQ: Intelligence  Quotient)  yang  tinggi.  Namun  dalam perkembangan  masa depan (Indonesia Baru) untuk menjadi Sumber Daya Manusia yang sukses dalam arti bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi dan golongannya; maka syarat IQ saja tidak lagi memenuhi kriteria.
  2. EQ (Emotional Quotient: tingkat emosional atau kepribadian).
  3. CQ (Creativity Quotient: tingkat kreativitas) dan
  4. RQ   (Religious    Quotient):    Tingkat   religiusitas   atau    keimanan    dan ketakwaan terhadap Tuhan YME). Sumber Daya Manusia dengan tingkat RQ tinggi adalah tidak sekedar beragama tetapi terutama beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sumber Daya Manusia yang beriman adalah seorang yang percaya bahwa Tuhan Maha Melihat, Mendengar dan Mengetahui apa-apa yang diucapkan, diperbuat bahkan isi hati  atau  niat  manusia.  Sumber  Daya  Manusia  yang  beriman  adalah seorang yang percaya adanya malaikat yang mencatat segala perbuatan yang baik maupun yang tercela, serta tahu mana yang salah atau haram.2

2 SQ dapat dinamakan juga dangan Religius Quotient (kecerdasan religius atau kecerdasan ruhaniah), karena dalam penerapannya  SQ adalah tidak dapat dipisahkan dengan  keyakinan beragama seseorang walaupun antar agama mempunyai konsep yang berbeda tentang bentuk SQ, akan tetapi esensinya sama  yaitu  keyakinan  akan  keberadaan  dan  peran  serta  Tuhan  dalam  setiap  aktivitas  kehidupan manusia.

Dalam  praktek  nyata, pentingnya  kemampuan personal dan interpersonal serta tingkat religiusitas sebagai benteng dalam pelaksanaan tanggung jawab dan pekerjaan  audit  bagi  para  auditor  di  Indonesia  khususnya  seperti  yang  telah disebutkan diatas, bisa kita lihat pada pedoman kode etik akuntan 1994 yang diterbitkan   oleh   lembaga   IAI (Ikatan Akuntan Indonesia). Pasal 1 ayat (2) Kode Etik  Akuntan  Indonesia, menegaskan bahwa setiap anggota harus mempertahankan integritas  dan obyektifitas3   yang tinggi dalam menjalankan  setiap tugasnya. Dengan mempertahankan integritas, setiap anggota akan tetap mempunyai kejujuran, komitmen, tegas, dan tanpa pretensi. Dengan mempertahankan obyektifitas, maka diharapkan  bagi  setiap anggota  akan bertindak adil tanpa  dipengaruhi oleh  tekanan atau  permintaan   tertentu  maupun kepentingan  pribadinya.

Tanpa adanya pengendalian atau kematangan emosi (EQ) dan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (keimanan dan ketakwaan) (SQ), sangat sulit bagi seorang  auditor  untuk  dapat  bertahan  dalam menghadapi  tekanan  frustasi,  stress, menyelesaikan konflik yang sudah menjadi bagian atau resiko profesi, dan memikul tanggung jawab seperti apa yang disebutkan dalam Pedoman Kode Etik Akuntan Indonesia, serta untuk tidak menyalahgunakan kemampuan dan keahlian yang merupakan amanah yang dimilikinya kepada jalan yang tidak dibenarkan. Sehingga akan  berpengaruh  terhadap  hasil  kinerja  mereka  (mutu  dan  kualitas  audit)  atau terjadinya penyimpangan-penyimpangan, kecurangan dan manipulasi terhadap tugas 3 Integritas mengharuskan auditor jujur dan terus terang dalam batasan kerahasiaan obyek pemeriksaan Kode Etik Akuntan Indonesia.Prinsip objektivitas menetapkan suatu kewajiban bagi auditor untuk tidak  memihak,  jujur  secara  intelektual  dan  bebas  dari  konflik  kepentingan.Pedoman  Kode  Etik Akuntan Indonesia.Appendix A 1994. hal:346. yang diberikan. Karena seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik akan  mampu  untuk  mengetahui  serta  menangani  perasaan  mereka  dengan  baik, mampu untuk menghadapi perasaan orang lain dengan efektif. Selain itu juga seseorang akuntan yang memiliki pemahaman atau kecerdasan emosi dan tingkat religiusitas yang tinggi akan mampu bertindak atau berperilaku dengan etis dalam profesi dan organisasi (Ludigdo dan Maryani, 2001).

Karena itulah perlu adanya perubahan akan makna dalam sistem pendidikan kita, dalam menyikapi makin beratnya tantangan di era globalisasi dan dalam rangka membentuk pribadi yang berkualitas dan memiliki etos kerja yang tinggi4 . Sehingga peran lembaga pendidik termasuk perguruan tinggi sebagai pencetak Sumber Daya Manusia dalam perusahaan dan Kantor Akuntan Publik diharapkan mampu mengangkat nilai-nilai: kejujuran, komitmen, amanah, integritas, bertanggung jawab, keyakinaan terhadap sifat-sifat Tuhan YME dan keteguhan hati merupakan bagian pengajaran yang diberikan kepada para calon auditor (mahasiswa) (Ludigdo, 2004).

Penjelasan tersebut diatas secara langsung mengindikasikan dan membuktikan kepada kita semua, bahwa para akuntan khususnya auditor di Indonesia dalam abad 21  perlu  untuk  mengembangkan  aspek  atau  berbagai  keterampilan  dan  keahlian khusus dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya yang semakin komplek, termasuk 4 Prof.Dr.Muhammad Yacub M.Ed. dalam jurnalnya yang berjudul: “Suatu opini mengenai reformasi sistem pendidikan nasional” berpendapat dan juga menekankan akan pentingnya reformasi dan perubahan sistem pendidikan nasional yang mensinergikan IQ, EQ, CQ dan SQ dalam segala bidang mulai dari filsafat/tujuan pendidikan sampai ke pemerintahan dan manajemen pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran, dan substansi pengajaran secara nasional, regional dan lokal.Selengkapnya  lihat http:// www.depdiknas.org. 2001 didalamnya: keterampilan atau keahlian profesi, kecerdasan emosional (Emotional Quotient)  dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient).

Adapun   beberapa    karya    ilmiah    dan   penelitian    terdahulu    yang   telah dipublikasikan, baik didalam negeri maupun diluar negeri, terkait dengan kecerdasan emosional antara lain yaitu:

Pertama. Pengaruh kecerdasan emosional (EQ) terhadap kinerja dalam perusahaan: Goleman menjelaskan (1998) tentang penggunaan kecerdasan emosional terhadap pendorong kinerja, dengan sampel manajer yang dikelompokkan kedalam 3 (tiga) bagian keahlian: tekhnikal, koognitif dan kemampuan kecerdasan emosi murni seperti kemampuan  memimpin  dan  berhubungan  dengan  orang  lain.  Cooper  dan  Sawaf (1998) meneliti tentang pemetaan kecerdasan emosional (EQ Map) dan pengaruhnya terhadap gaya kepemimpinan dan kinerja sejumlah eksekutif manajer pada perusahan multinasional. Serta McClleland (1973) dalam Goleman (2000) meneliti tentang pengaruh kecerdasan intelektual (IQ) dengan parameter prestasi akedemis yang dicapai, terhadap kesuksesan  seseorang di tempat kerja.

Kedua. Pengaruh kecerdasan emosional (EQ) terhadap kinerja auditor dan pendidikan akuntansi: Surya dan Hananto (2004) meneliti tentang kinerja auditor dalam Kantor Akuntan Publik dengan kecerdasan emosional auditor. Bulo (2002) dan Afufah dkk (2004) meneliti tentang pengaruh pendidikan dalam jurusan akuntansi terhadap pembentukan kecerdasan emosional (EQ) mahasiswa  akuntansi. Serta Suryaningsum dkk (2003) dan Wijayanto (2005) meneliti tentang pengaruh kecerdasan emosional (EQ) terhadap prestasi belajar mahasiswa ekonomi jurusan akuntansi di universitas negeri dan swasta.

Sedangkan beberapa penelitian dan karya ilmiah   terkait dengan kecerdasan spiritual antara lain, di awali oleh Zohar dan marshal (2000) meneliti secara ilmiah dan  membahas  tentang  adanya  kecerdasan  spiritual  yang  dimiliki  oleh  setiap manusia, yang berpengaruh terhadap segala aspek kehidupannya. Beberapa karya ilmiah penulis dan peneliti dari luar negeri yang senada yang membahas tentang kecerdasan spiritual antara lain: Hendrick dan Ludeman (1998), Edward (1999), Khavari  (2000),  Sinetar  (2000),  Wild  (2000),  Levin  (2000)  dan  Wolman  (2001) dalam Sukidi (2002).Adapun penelitian dan karya ilmiah tentang kecerdasan spiritual yang dilakukan dalam negeri antara lain yaitu:

Pertama. Kecerdasan spiritual (SQ) dan pengaruhnya terhadap kinerja dalam perusahaan: Agustian (2001) membahas tentang pengaruh kombinasi kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ) yang dilandaskan pada nilai-nilai keislaman dalam membentuk kepribadian dan kinerja yang sukses. Senada  dengan Agustian, Tasmara (2002) juga membahas tentang pengaruh dan penerapan nilai spiritual agama (SQ) terhadap pembentukan etos kerja yang positif dalam tempat kerja. Sukidi (2002) membahas tentang pentingnya kecerdasan spiritual (SQ) dalam mengatasi  problema psikologi dalam kehidupan termasuk juga di antaranya dalam tempat kerja. Serta Syahdani  (2005)  yang  membahas  tentang  pendekatan  unsur  etika  dan  psikologi dengan kematangan emosional dan spiritual (ESQ) dalam strategi mengelola perusahaan  atau  organisasi dan untuk mencapai perestasi kerja yang optimal.

Kedua. Pengaruh kecerdasan spiritual (SQ) terhadap perilaku etis akuntan dan pendidikan akuntansi: Ludigdo dan Maryani (2001) meneliti atas faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan dalam berperilaku etis yang sebagian besar dipengaruhi oleh faktor religiuistas. Serta Ludigdo (2004) membahas adanya pergeseran paradigma sistem pendidikan dan profesi akuntansi mulai dari yang berbasis kecerdasan intelektual menjadi berbasis kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual  (IESQ).

Berbicara tentang  penelitian dan karya ilmiah tentang kecerdasan emosional dan spiritual, terutama sekali semenjak mulai dipopulerkannnya istilah kecerdasan emosional (EQ) oleh Daniel Goleman pada tahun 1990-an, serta kecerdasan spiritual (SQ) oleh Zahar dan Marshal di penghujung abad 20, sudah banyak diteliti oleh para peneliti dalam dan luar negeri. Akan tetapi penelitian yang berhubungan dengan bidang  akuntansi  adalah  sangat  sedikit  dan jarang sekali dilakukan. Oleh karena itulah maka peneliti  tertarik untuk membahasnya. Studi ini merupakan replikasi yang disertai dengan pengembangan, dari penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh Surya dan Hananto (2004) yang meneliti pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja auditor di Jawa Tengah  khususnya  daerah Surakarta dan Semarang. Selain itu juga dimotivasi oleh penelitian Ludigdo (2004) yang membahas pentingnya penyertaan kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ) disamping kecerdasan intelektual (IQ) dalam membentuk para calon akuntan dan auditor (mahasiswa) dalam menghadapi  makin  beratnya  tantangan  profesi  akuntansi  dimasa  depan.  Serta Syahdani (2005) yang membahas pemakaian pendekatan kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ) sebagai metode meningkatkan kinerja  optimal  dalam perusahaan.

Replikasi dan pengembangan atas penelitian sebelumnya, dilakukan dengan alasan: 1).Munculnya paradigma kecerdasan baru yaitu kecerdasan spiritual (SQ) yang merupakan temuan ilmiah terbaru di abad ke 21, tentang kecerdasan lain yang tidak kalah penting dan dimiliki manusia selain IQ dan EQ, bahkan menurut Zahar

dan Marshal, SQ adalah pondasi kecerdasan (Ultimate Intelligence). Sinergisitas kecerdasan emosional dan spiritual membuat seseorang akan sukses dan berhasil termasuk diantaranya dalam tempat kerja (Agustian, 2001). 2).Faktor sosio-geografis dan perbedaan budaya berpengaruh erat terhadap perbedaan dan pembentukan nilai, sikap dan keyakinan. Oleh karena  sesuai dengan saran penelitian sebelumnya, perlu dilakukan pengujian ulang atas responden pada Kantor Akuntan Publik yang berbeda (diluar daerah Semarang dan Surakarta). Sebagai upaya dalam menguji kembali atas penelitian pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja (Surya dan Hanto,  2004).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah: “Adakah pengaruh kecerdasan emosional (EQ) dan spiritual (SQ) auditor terhadap kinerja para auditor dalam Kantor Akuntan Publik?”

Judul terkait:

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL DAN SPIRITUAL AUDITOR TERHADAP KINERJA AUDITOR DALAM KANTOR AKUNTAN PUBLIK

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk file/softcopy langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Telpon kami langsung atau ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509 atau 0274-9300600

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Leave a Reply

Current day month ye@r *