Referensi Jurnal Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan merupakan suatu usaha untuk melakukan perubahan terhadap keadaan untuk menjadi lebih baik, dimana usaha tersebut dilakukan secara terus-menerus. Pembangunan merupakan proses perombakan dalam struktur pembangunan ekonomi yang terdapat dalam suatu masyarakat sehingga membawa kemajuan dalam arti meningkatkan taraf hidup rakyat maupun untuk menyempurnakan mutu kehidupan dalam masyarakat yang bersangkutan. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang sedang melaksanakan pembangunan secara seimbang yaitu pembangunan manusia indonesia seutuhnya lahir maupun batin secara seimbang adil dan makmur.

Sebagai negara yang besar dalam jumlah penduduknya, Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang besar pengaruhnya terhadap komposisi jumlah penduduk dunia. Berdasarkan data populasi penduduk dunia tahun 2005, jumlah penduduk Indonesia sekitar 241.973.879 jiwa dengan kepadatan penduduk 126/Km 2 . Dengan jumlah tersebut berarti Indonesia merupakan negara nomor empat terbesar di dunia dalam hal jumlah penduduk setelah Republik Rakyat Cina 1.306.313.812 jiwa, India 1.080.264.388 jiwa dan Amerika 295.734.134 jiwa. (Wikipedia 2005).

Dalam hal ini Todaro (1987:115) menjelaskan karakteristik umum negara-negara sedang berkembang dalam 6 kategori yaitu :

  1. Tingkat hidup yang rendah.
  2. Tingkat produktivitas yang rendah.
  3. Pertumbuhan penduduk dan tanggungan beban yang tinggi.
  4. Tingkat pengangguran yang tinggi.
  5. Ketergantungan yang tinggi terhadap produk pertanian dan produk-produk pokok (primer); dan
  6. Dominasi ketergantungan dan sifat mudah terpengaruh (Vulnerable) dalam hubungan internasional. Jumlah penduduk Indonesia yang tinggi adalah masalah yang serius yang

dapat menjadi penghambat dalam pembangunan ekonomi. Sebagai faktor pembagi dalam penentuan pendapatan perkapita maka pemerintah diharapkan untuk dapat mengendalikan jumlah penduduk dengan menekan angka pertumbuhan penduduk. Secara makro pertumbuhan ekonomi diusahakan lebih tinggi atau lebih cepat dari pertumbuhan penduduk.

Pertumbuhan penduduk di suatu wilayah dipengaruhi oleh tiga komponen pokok, yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas) dan perpindahan (migrasi). Walaupun besarnya jumlah penduduk memberikan indikasi semakin bertambahnya sumber daya manusia yang dapat dimanfaatkan dalam menunjang pembangunan, namun demikian karena pertambahan jumlah penduduk tersebut tidak selalu diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusianya, maka yang seringkali terjadi adalah pertambahan penduduk cenderung menjadi beban pemerintah dibandingkan aspek pemanfaatannya. Akibatnya semakin bertambah jumlah penduduk, maka permasalahan kependudukan yang dipikul oleh pemerintah daerah juga semakin kompleks dan beragam, seperti penyediaan lapangan pekerjaan, permukiman, sarana dan prasarana transportasi, fasilitas pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Oleh karena itu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya pemerintah berupaya mengendalikan pertambahan jumlah penduduk dengan cara melakukan intervensi pada tiga komponen pokok yang telah disebut di atas.

Selain merupakan sasaran pembangunan, penduduk juga merupakan pelaku pembangunan. Maka kualitas penduduk yang tinggi akan lebih menunjang laju pembangunan ekonomi. Usaha yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kualitas penduduk melalui fasilitas pendidikan, perluasan lapangan pekerjaan dan penundaan usia kawin pertama. Menurut Kuncoro (1997:169) menjelaskan bahwa ada tiga alasan mengapa pertumbuhan penduduk yang tinggi akan menghambat pembangunan :

  1. Meningkatkan konsumsi saat ini dan investasi yang dibutuhkan untuk membuat konsumsi dimasa yang akan datang. Rendahnya sumber daya perkapita akan menyebabkan penduduk tumbuh lebih cepat yang pada gilirannya membuat investasi dalam kualitas manusia semakin sulit. Fakta menunjukkan aspek kunci dalam pembangunan adalah penduduk yang semakin terampil dan berpendidikan.
  2. Di banyak negara dimana penduduknya masih amat bergantung dengan sektor pertanian, pertumbuhan penduduk mengancam keseimbangan sumberdaya alam karena pertumbuhan penduduk memperlambat perpindahan penduduk dari struktur pertanian modern dan pekerja modern lainnya.
  3. Pertumbuhan penduduk yang cepat membuat semakin sulit melakukan perubahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan perubahan ekonomi dan sosial. Secara nasional, laju pertumbuhan penduduk relatif masih cepat walaupun

ada kecenderungan menurun. Menurunya laju pertumbuhan penduduk ini disebabkan karena menurunnya tingkat fertilitas yang berjalan lebih cepat dibandingkan dengan penurunan tingkat mortalitas. Indonesia termasuk negara yang berhasil dalam upaya menekan jumlah kelahiran. Dalam periode 1960-1970 angka kelahiran total Indonesia adalah 5,6 yang artinya setiap wanita Indonesia rata-rata melahirkan lima sampai enam anak jika dia hidup sampai akhir masa reproduksinya serta terjadi perubahan pola kelahiran. Menurut Biro Pusat Statistik BPS tahun 1998, angka kelahiran total ini terus menurun hingga pada periode 1981- 1984 menjadi 4,1 per wanita dan diproyeksikan menjadi 3,5 pada periode 1985-1990. sedangkan berdasarkan data akhir BPS tahun 2005 rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup per wanita usia 15-49 tahun di Indonesia adalah 2,60.

Teori pertumbuhan penduduk mengatakan bahwa suatu bangsa pada permulaan pertumbuhannya mengalami fase potensi tinggi, kemudian fase transisi, dan selanjutnya fase “incipient decline” setelah mencapai keseimbangan baru. Tetapi ramalan oleh teori itu tidak sepenuhnya cocok. Setelah keseimbangan baru tersebut tercapai, penduduk pada umumnya tidak mengalami “incipient decline” , yaitu mulai menurun jumlahnya, melainkan mempunyai kecenderungan bertambah secara lambat (Ruslan Prawiro, 1983:87).

Pengendalian jumlah penduduk melalui komponen kelahiran (fertilitas), dapat dilakukan melalui program Keluarga Berencana (KB) yang dicanangkan oleh pemerintah sejak tahun 1970. Program ini memiliki tiga tujuan pokok, yaitu : mendewasakan usia perkawinan, mengatur jarak kelahiran (spacing) dan membatasi jumlah kelahiran (stopping). Sasaran dari program ini adalah agar masyarakat dapat membentuk keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera, sehingga kesejahteraan hidupnya lebih terjamin (Hanafi Hartanto,1989:20).

Maka, berdasarkan dari latar belakang dan uraian diatas maka perlu untuk diadakan penelitian mengenai “PENGARUH FAKTOR SOSIAL EKONOMI TERHADAP JUMLAH ANAK YANG DIHARAPKAN ; STUDI KASUS DI KELURAHAN NAMBANGAN KIDUL KECAMATAN MANGUHARJO KOTA MADIUN”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka secara singkat permasalahan yang dapat diambil dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagi berikut :

  1. Apakah terdapat pengaruh tingkat pendapatan keluarga, tingkat pendidikan suami, tingkat pendidikan istri, usia kawin pertama istri, lama penggunaan alat kontrasepsi dan status pekerjaan istri sebagai faktor sosial ekonomi terhadap jumlah anak yang diharapkan ?
  2. Apakah terdapat pengaruh antara keenam faktor sosial ekonomi tersebut secara bersama-sama terhadap jumlah anak yang diharapkan ?

Judul terkait:

PENGARUH FAKTOR SOSIAL EKONOMI TERHADAP JUMLAH ANAK YANG DIHARAPKAN (STUDI KASUS DI KELURAHAN NAMBANGAN KIDUL, KECAMATAN MANGUHARJO, KOTA MADIUN)

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk file/softcopy langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Telpon kami langsung atau ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509 atau 0274-9300600

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Leave a Reply

Current day month ye@r *