Referensi Jurnal Skripsi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Secara umum perusahaan-perusahaan yang ada saat ini memiliki karakteristik yaitu adanya pemisahan antara pemilik (owner) dan pihak manajerial. Pemilik mempunyai agen atau pihak yang dipercaya untuk mengelola dananya dalam perusahaan yaitu para pengelola atau manajer. Para pengelola atau manajer ini sebagai pihak manajerial yang menjalankan kegiatan operasi perusahaan sehari-hari (Weston dan Copeland, 1995 : 9).

Tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan laba perusahaan, kemakmuran pemegang sahamnya (Van Horne et al., 1997 : 3) dan memaksimumkan nilai perusahaan (Weston dan Copeland, 1995 : 10). Perusahaan yang dikelola oleh para manajer diharapkan oleh pemilik untuk menghasilkan keuntungan yang tinggi dan memberikan keuntungan tersebut kepada pemilik sebagai konsekuensi modal yang telah diberikan pada perusahaan. Untuk perusahaan yang telah go public dan mencatatkan sahamnya pada bursa efek, hasil yang diberikan oleh perusahaan pada pemilik (pemegang saham) tersebut dikenal dengan sebutan dividen. Para pemilik modal mengharapkan pembayaran dividen yang tinggi, namun terkadang pengelola perusahaan atau manajer memiliki kepentingan lain tentang pembayaran dividen yang berbeda dengan kepentingan para pemilik.

Berkaitan dengan hal diatas, perusahaan dihadapkan pada suatu permasalahan keputusan tentang kebijakan dividen yang diberikan kepada pemegang saham. Kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi di masa mendatang (Agus Sartono, 1998 : 369). Kebijakan dividen perusahaan merupakan suatu hal yang kompleks dan dalam banyak kesempatan mengundang kontroversi diantara berbagai pihak dalam perusahaan. Dua pertanyaan penting tentang kebijakan dividen adalah bagaimana prosedur pembayaran yang diambil oleh perusahaan dan apakah kebijakan dividen berpengaruh terhadap peningkatan nilai perusahaan (Weston dan Copeland, 1995 : 381). Variasi opini yang berkembang dalam pernyataan tersebut bertingkat antara pihak yang menginginkan dividen dibagi sebesar-besarnya, kebijakan dividen yang tidak relevan dan pendapat yang mengatakan bahwa perusahaan seharusnya membagikan dividen sekecil mungkin (Suad Husnan, 1998 : 383).

Dalam keputusan pembagian dividen perlu dipertimbangkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan. Dengan demikian laba tidak seluruhnya dibagikan kedalam bentuk dividen namun perlu disisihkan untuk diinvestasikan kembali. Besar kecilnya dividen yang akan dibayarkan perusahaan tergantung pada kebijakan dividen dari masing-masing perusahaan, sehingga pertimbangan manajemen pada RUPS sangat diperlukan. Dengan demikian, perlu bagi pihak manajemen untuk mempertimbangkan faktor-faktor apa saja yang akan mempengaruhi kebijakan dividen yang akan ditetapkan perusahaan.

Berkaitan dengan kebijakan pembayaran dividen tersebut dalam konteks manajemen keuangan terlihat bahwa terdapat beberapa pihak yang saling berbeda kepentingan, yaitu antara kepentingan pihak pemegang saham, kreditor, dan pihak perusahaan sendiri. Pihak perusahaan yang diwakili oleh para manajer seharusnya bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran pemilik namun manajer sering mempunyai tujuan lain yang bertentangan dengan tujuan utama tersebut sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara pihak manajemen dan pemegang saham. Juga dalam hubungannya antara pemegang saham dan kreditor, cenderung memunculkan konflik bila manajer berinvestasi pada tingkat resiko yang lebih tinggi dari tingkat resiko yang diperkirakan oleh kreditor. Semakin tinggi resiko yang diambil oleh manajer dengan harapan bahwa semakin tinggi pula tingkat pengembalian atas investasi maka hal ini akan lebih menguntungkan pihak pemegang saham dibanding kreditor. Konflik-konflik tersebut dikenal sebagai masalah keagenan (agency problem) (Weston dan Copeland, 1995 : 9).

Teori keagenan Jensen dan Meckling (1976), menyatakan bahwa perusahaan yang memisahkan fungsi kepemilikan dengan fungsi pengelolaan akan rentan terhadap konflik keagenan. Penyebab konflik antara manajemen dengan pemegang saham diantaranya adalah pembuatan keputusan yang berkaitan dengan 1) aktivitas pencarian dana (financing decision), dan 2) pembuatan keputusan yang berkaitan dengan cara untuk menginvestasikan dana tersebut. Selain itu, agency problem akan terjadi apabila proporsi kepemilikan manajer atas saham perusahaan kurang dari 100%, sehingga manajer cenderung bertindak untuk mengejar kepentingan dirinya dan sudah tidak berdasar maksimalisasi nilai perusahaan dalam pengambilan keputusan.

Konflik kepentingan antara manajemen dan pemegang saham dapat diminimalkan dengan suatu mekanisme pengawasan yang dapat menyejajarkan kepentingan-kepentingan tersebut. Dampak dari adanya mekanisme pengawasan maka akan menimbulkan biaya yang disebut sebagai agency cost. Menurut Jensen dan Meckling (1976), biaya agensi yang timbul merupakan tanggung jawab stockholder (pemegang saham). Ada beberapa alternatif untuk mengurangi agency cost yaitu : pertama, dengan meningkatkan kepemilikan saham perusahaan oleh pihak manajemen (insider ownership) sehingga dapat menyejajarkan kepentingan pemilik dengan manajer (Jensen dan Meckling, 1976), kedua, dengan meningkatkan dividend payout ratio (DPR) sehingga tidak tersedia banyak free cash flow dan manajemen terpaksa mencari pendanaan dari luar untuk membiayai investasinya (Jensen, 1986), ketiga, meningkatkan pendanaan dengan hutang. Dengan penggunaan hutang maka perusahaan harus melakukan pembayaran periodik atas bunga dan pokok pinjaman. Hal ini dapat mengurangi keinginan manajer untuk menggunakan free cash flow guna membiayai kegiatan yang tidak optimal (Jensen et al., 1992 dalam Eka Findi, 2005), keempat, dengan mengurangi distribusi saham (shareholder dispersion) pemegang saham (Alli et al., 1993 dalam Mollah et al., 2000). Jika jumlah saham dipegang dipegang oleh sedikit pemegang saham maka kepemilikan akan lebih terkonsentrasi dan pemegang saham cenderung semakin mudah untuk mempengaruhi perilaku manajer, sehingga mengurangi agency costs.

Kemudian untuk mengurangi konflik antara pemegang saham dengan kreditor dimana pemegang saham dapat mengambil keuntungan dari kreditor melalui dividen yang dibayarkan, kreditor mencoba mengatasi masalah ini melalui pembatasan pembayaran dividen. Titman dan Wassel (1988) dalam Mollah et al. (2000) mengemukakan bahwa perusahaan yang memegang lebih banyak aset yang dijaminkan (collateralizable assets) mempunyai lebih sedikit agency costs antara pemegang saham dengan kreditor karena aset ini dapat berfungsi sebagai pinjaman kolateral.

Dari penjelasan mengenai munculnya permasalahan agensi, biaya agensi dan mekanisme untuk mengurangi biaya agensi diatas, maka penelitian ini ingin menunjukkan variabel-variabel pembentuk konsep agency costs, dengan tujuan untuk menggambarkan lebih jelas pengaruh variabel-variabel tersebut dalam dividend payout ratio perusahaan. Karena agency costs tidak dapat diobservasi secara langsung maka dibutuhkan proksi yang diperkirakan mempengaruhi agency costs. Penelitian ini menggunakan beberapa variabel sebagai proksi agency costs yang terkait dalam teori agensi seperti insider ownership (kepemilikan manajerial), dispersion of ownership (penyebaran kepemilikan), free cash flow (aliran kas bebas) dan collateralizable asset (jaminan aset).

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp350ribu Rp300ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk file/softcopy langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Telpon kami langsung atau ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509 atau 0274-9300600

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Jumlah agency costs banyak dipengaruhi oleh insider ownership, yaitu kepemilikan saham yang dimiliki oleh pihak manajemen perusahaan. Penambahan jumlah kepemilikan saham perusahaan oleh pihak manajemen, akan dapat menyelaraskan keinginan antara pihak manajemen dengan pemegang saham termasuk juga didalamnya kebijakan pembayaran dividen (Jensen dan Meckling, 1976) dan juga sebagai fasilitas untuk mempercepat dalam pembuatan keputusan (Tandelilin dan Wiberforce, 2002). Dengan adanya peningkatan kepemilikan saham perusahaan oleh pihak manajemen, diharapkan agar pihak manajerial akan lebih merasakan dampak langsung dari pengambilan keputusan yang dilakukannya menyangkut perusahaan apakah akan menguntungkan atau bahkan kerugian sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah (Wahidahwati, 2001).

Rozeff (1982) dalam Darman (2006) mengemukakan peranan insider sebagai orang yang memantau manajer. Perusahaan melakukan pembayaran dividen yang tinggi ketika insider memiliki sebagian kecil jumlah saham perusahaan. Hal ini mendukung pandangan bahwa pembayaran dividen adalah bagian dari pemantauan optimum perusahaan dan berfungsi mengurangi agency costs.

Mekanisme pengawasan lain yang perlu dipertimbangkan yaitu proporsi kepemilikan saham pemegang saham di perusahaan. Rozeff (1982) dalam Eka Findi (2005) berpendapat bahwa monitoring manajer oleh pemegang saham diartikan dengan kepemilikan yang menyebar (dispersion ownership), semakin banyak jumlah pemegang saham, maka kepemilikannya semakin menyebar. Alli et al. (1993) dalam Mollah et al. (2000) mengemukakan bahwa ketika jumlah pemegang saham bertambah, maka masalah agency costs menjadi semakin tinggi, kebutuhan untuk memantau tindakan manajer juga tinggi. Jika dividen dapat mengurangi masalah ini maka diharapkan terdapat hubungan antara jumlah pemegang saham umum dengan rasio pembayaran dividen. Dari penelitian-penelitian sebelumnya terdapat hubungan positif antara jumlah pemegang saham dengan DPR karena jika jumlah pemegang saham meningkat, agency problems dan biaya monitoring juga meningkat. Dan pada akhirnya pembayaran dividen yang tinggi dapat mengurangi hal ini.

Free cash flow menjadi menarik untuk dikaitkan dengan dividend payout ratio karena free cash flow cenderung menimbulkan konflik kepentingan antara pemegang saham dan manajer. Hal tersebut terjadi karena ada perbedaan kepentingan diantara kedua belah pihak, yaitu pemegang saham ingin sisa dana tersebut dibagikan untuk meningkatkan kesejahteraanya melalui dividen, sedangkan manajer ingin dana tersebut digunakan untuk membiayai investasi pada proyek-proyek yang menguntungkan karena kepentingan insentif dan bonus yang diharapkan kelak. Free cash flow dalam perusahaan dapat dimanfaatkan pihak manajerial untuk tindakan perquisites yang merugikan pemegang saham.

Jensen (1986) menyatakan bahwa pasar akan membuat tekanan untuk mendorong manajer agar mendistribusikan free cash flow kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Hal ini bertujuan untuk menghindari pengambilan keputusan yang buruk bagi pihak manajemen yang mengakibatkan meningkatnya agency costs. Dividen dipandang sebagai subtitusi utang dalam mengurangi agency costs free cash flow (Agrawal dan Jayaraman, 1994 dalam Tarjo dan Hartono, 2003). Hasil penelitian yang terdahulu oleh Mollah et al. (2000) menunjukkan bahwa variabel free cash flow berpengaruh positif dan signifikan dengan dividend payout ratio.

Konflik kepentingan yang terjadi pada pemegang saham dan kreditor tentang permasalahan pembayaran dividen dapat diminimalkan melalui jaminan aset (collateralizable assets). Collateralizable Assets mencerminkan besarnya nilai aktiva tetap perusahaan pada akhir tahun laporan keuangan yang dapat digunakan untuk memperoleh pinjaman. Titman dan Wassel (1988) dalam Mollah et al. (2000) mengemukakan bahwa perusahaan yang memegang lebih banyak aset yang dijaminkan (collateralizable assets) mempunyai lebih sedikit agency costs antara pemegang saham dengan pemegang obligasi karena aset ini dapat berfungsi sebagai pinjaman kolateral. Sehingga dapat dikatakan bahwa collateralizable assets berhubungan positif dengan dividend payout ratio.

Mollah et al. (2000) dari hasil penelitian empirisnya menyatakan bahwa adanya pengaruh agency costs terhadap kebijakan dividen. Handoko (2002) menyatakan bahwa besar kecilnya dividend payout ratio tidak dipengaruhi oleh variabel insider ownership, free cash flow, dispersion of ownership dan collaterizable assets, yang menjelaskan bahwa masalah keagenan di Indonesia tidak dapat diselesaikan melalui mekanisme pembayaran dividen.

Banyak studi yang telah dilakukan mengenai pengaruh biaya agensi terhadap dividend payout ratio, tetapi beberapa penelitian tersebut menunjukkan hasil yang berbeda. Penelitian ini bermaksud untuk melakukan studi lebih lanjut melalui pengujian kembali (replication extention) atas penelitian Mollah et al. (2000). Alasan untuk melakukan pengujian kembali adalah peneliti ingin mengetahui apakah jika dilakukan penelitian ulang dengan menggunakan sampel dan periode yang berbeda, hasil penelitian ini akan konsisten dengan penelitian sebelumnya. Jika hasilnya konsisten maka, dapat disimpulkan bahwa agency cost berpengaruh terhadap dividend payout ratio yang dikeluarkan oleh perusahaan manufaktur yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Sedangkan jika hasilnya tidak konsisten, maka dapat dikaji faktor-faktor yang mungkin membuat perbedaan hasil penelitian tersebut.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya berkaitan dengan :

  1. Sampel yang digunakan adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Penelitian sebelumnya menggunakan sampel perusahaan non-financial yang terdaftar dalam Dhaka Stock Exchange. Alasan pemilihan perusahaan manufaktur sebagai populasi dalam penelitian ini adalah : 1) untuk menghindari perbedaan karakteristik antara perusahaan manufaktur dan non-manufaktur, 2) perusahaan manufaktur cukup sensitif terhadap setiap perubahan kondisi (Tarjo dan Hartono, 2003), 3) jumlah perusahaan manufaktur yang cukup besar sehingga motivasi untuk memperoleh sampel yang cukup dalam penelitian dapat terpenuhi.
  2. Periode waktu penelitian yang dilakukan adalah empat tahun (2002-2005) dengan tujuan untuk mendapatkan data terbaru. Penelitian sebelumnya menggunakan periode penelitian 10 tahun (1988-1997).

Dengan latar belakang diatas maka penelitian ini dilakukan dengan judul “Pengaruh Agency Costs Terhadap Dividend Payout Ratio pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta Tahun 2002-2005″. Dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh agency costs yang diprosikan oleh insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow, dan collateralizable assets terhadap dividend payout ratio.

1.2. Rumusan Masalah

Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini terdiri dari tiga bagian. Masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Apakah variabel insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow, dan, collateralizable assets secara simultan mempunyai pengaruh signifikan terhadap dividend payout ratio?
  2. Apakah variabel insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow, dan collateralizable assets secara parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap dividend payout ratio?
  3. Diantara varibel-variabel insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow, dan collateralizable assets, variabel mana yang paling dominan pengaruhnya terhadap dividend payout ratio?

Print Friendly

tags for the article:

dampak langsung dan tidak langsung prinsip the agency problem (1)
PENGARUH AGENCY COSTS TERHADAP DIVIDEND PAYOUT RATIO PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK JAKARTA TAHUN 2002-2005

Leave a Reply