Referensi Jurnal Skripsi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Negara berkembang pada umumnya sedang berusaha untuk mengembangkan dirinya dari suatu keadaan dan sifat masyarakat tradisional dengan keadaan ekonomi terbelakang menuju ke arah keadaan yang dianggap lebih baik. Paling sedikit hal ini meningkatkan ekonomi dan sosial, ditujukan ke arah mendapatkan kesejahteraan dan tingkat ekonomi yang lebih baik. Setiap negara yang sedang berkembang struktur perekonomiannya lebih menitikberatkan pada sektor pertanian. Sektor pertanian sebagai penyumbang utama terhadap pendapatan nasional sekaligus sebagai penyerap terbesar dari tenaga kerja yang tersedia. Dengan berhasilnya pembangunan tersebut, maka akan sedikit demi sedikit terjadi penurunan peranan sektor pertanian dan sebaliknya akan terjadi peningkatan peranan sektor non pertanian dalam menyumbang produksi nasional maupun dalam menyediakan lapangan kerja.

Sektor pertanian merupakan sektor yang paling dominan dalam pembangunan ekonomi dari kebanyakan negara berkembang dikarenakan sebagian besar penduduknya hidup dari sektor ini. Walaupun demikian masih ada juga masalah yang hadapi dalam pembangunan pertaniannya antara lain:

  1. Masih terpusatnya kegiatan ekonomi negara-negara sedang berkembang di sektor pertanian. Hal ini merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan mereka mempunyai tingkat pendapatan yang rendah.
  2. Rendahnya tingkat produktifitas pertanian, merupakan kesulitan bagi negara sedang berkembang untuk menaikkan pendapatan perkapita.

Di negara yang sedang berkembang keadaannya jauh berbeda dengan negara maju, baik di tingkat kehidupan maupun teknologinya. Pada umumnya penduduk di negara sedang berkembang bekerja di sektor produksi primer meliputi jumlah lebih dari 60 %, di sektor produksi sekunder kurang dari 20 %. Konsentrasi pada sektor produksi primer ini disebabkan di negara sedang berkembang memiliki faktor produksi tanah dan tenaga kerja yang relatif banyak (Irawan, 1988).

Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, juga tidak dapat dijadikan satu-satunya patokan dalam kerangka pemikiran dan pola pendekatan yang dikuti. Hal ini di sadari bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus diusahakan dalam suatu arah pertumbuhan yang ditujukan kepada sasaran yang diutamakan, yaitu: perluasan kesempatan kerja, penanggulangan pengangguran, peningkatan permintaan tenaga kerja, dan pemberantasan kemiskinan, yang satu sama lainnya harus tercermin pada pola dan arah investasi dan skala prioritas kebijaksanaan dengan mengutamakan sektor kegiatan ekonomi yang memberi peluang lebih besar bagi lapangan pekerjaan.

Kondisi pasar tenaga kerja di Provinsi Jawa Timur masih diwarnai dengan tidak imbangnya jumlah penawaran tenaga kerja dengan permintaan tenaga kerja, hal ini akan menimbulkan semakin selektif dan ketatnya persaingan di pasar kerja. Salah satu data yang dapat digunakan untuk memberikan gambaran ketenagakerjaan dari sisi penyediaan tenaga kerja sampai tingkat Kabupaten/Kota berasal dari data hasil pengolahan Susenas (Survey Sosial Ekonomi Nasional). Beberapa sektor ekonomi seperti perdagangan dan industri nampaknya baru mulai bangkit kembali sekitar tahun 2000, dan keadaan ini akan mempengaruhi struktur ketenagakerjaan baik dari sisi permintaan maupun penawaran yang selanjutnya akan berimbas pada besarnya angka pengangguran. Besarnya angka pengangguran dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain ketidakstabilan tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat pendidikan dan keterampilan penduduk usia kerja yang tidak memadai dibandingkan lapangan kerja yang tersedia.

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp350ribu Rp300ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk file/softcopy langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Telpon kami langsung atau ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509 atau 0274-9300600

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Dari sisi persediaan tenaga kerja, di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2005 terdapat 18,59 juta orang angkatan kerja. Dengan tingkat pendidikan terbesar adalah pendidikan rendah (SD ke bawah) yaitu 69,32 persen. Dari sejumlah angkatan kerja tersebut terdapat 16,79 juta orang yang bekerja dan 1.082.011 orang yang menganggur. Berdasarkan registrasi data ketenagakerjaan yang tercatat di kantor Disnaker, diperoleh informasi bahwa angkatan kerja di Provinsi Jawa Timur tercatat sebanyak 18.591.324 jiwa dan penyebarannya masih terpusat pada tiga daerah yaitu Kota Surabaya, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Jember. Dilihat dari komposisinya, jumlah angkatan kerja laki-laki jauh lebih besar dibandingkan  angkatan kerja perempuan. Angkatan kerja laki-laki tercatat sebesar 11.334,324 jiwa (60,96%), dan sisanya sebanyak 7.257.295 jiwa (39,04%) adalah angkatan kerja perempuan, dengan persebaran relatif sama dengan total angkatan kerja di Provinsi Jawa Timur. Rendahnya jumlah angkatan kerja perempuan ini diduga karena banyak perempuan yang memilih untuk tidak masuk menjadi angkatan kerja karena mengurus rumah tangga.

Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur khususnya pada sektor Industri secara berkelanjutan terus berkembang menjadi salah satu barometer di tingkat nasional. Dalam waktu lima tahun mendatang Jawa Timur memprogramkan pertumbuban.industri rata-rata pertahun akan dapat mencapai 9%, dimana sektor industri diharapkan dapat memberikan sumbangan 27,47% dari struktur ekonomi yang ada di Jawa Timur.

1.2. ALASAN PEMILIHAN JUDUL

Pembangunan ekonomi yang berkonsentrasi pada kesempatan kerja berpindah dari sektor pertanian ke sektor non pertanian. Pergeseran lapangan pekerjaan tersebut antara lain disebabkan semakin sempitnya luas lahan pertanian. Hal ini disebabkan antara lain karena banyaknya lahan pertanian yang berubah fungsi dengan dibangunnya perumahan dan pabril-pabrik, bahkan akhir-akhir ini banyak dibangun ruko (rumah toko). Sempitnya lahan pertanian ini menyebabkan semakin rendahnya pendapatan petani pedesaan. Di sinilah terasa kebutuhan kerja alternatif di luar sektor pertanian. Dari uraian tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti permasalahan yang terjadi, dengan judul Elastisitas Permintaan Tenaga Kerja Pada Sektor Non Pertanian Di Provinsi Jawa Timur Tahun 2001-2005.

1.3. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang, permasalahan yang dikemukakan sesuai dengan judul penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

  1. Seberapa besar elastisitas permintaan tenaga kerja pada sektor non pertanian di Provinsi Jawa Timur selama periode tahun 2001-2005 ?.
  2. Sektor manakah yang elastisitas permintaan tenaga kerjanya paling besar di antara sektor non pertanian di Provinsi Jawa Timur selama periode tahun 2001-2005 ?.

Print Friendly, PDF & Email

tags for the article:

permintaan tenaga kerja (58), elastisitas permintaan tenaga kerja (29), jurnal permintaan tenaga kerja (19)
ELASTISITAS PERMINTAAN TENAGA KERJA PADA SEKTOR NON PERTANIAN DI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2001-2005

Leave a Reply