Referensi Jurnal Skripsi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Era globalisasi yang ditandai oleh kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat sehingga tidak ada hambatan-hambatan perdagangan antar negara, lalu lintas keuangan internasional, dan keluar masuknya arus modal dan investasi, maka tidak terlalu berlebihan bila dikatakan bahwa perkembangan ekonomi suatu negara secara sederhana dapat dinilai dari seberapa jauh kesuksesan dan perkembangan pasar modalnya.

Pasar modal merupakan bagian dari pasar finansial, yakni yang berhubungan dengan penawaran dan permintaan dana jangka panjang, yang sekaligus mempunyai fungsi ekonomi dan keuangan. Dalam melaksanakan fungsi ekonominya (Suad Husnan, 1994:3-4), pasar modal menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana dari lender (pihak yang mempunyai kelebihan dana) kepada borrower (pihak yang membutuhkan dana). Pihak yang berkelebihan dana (lender) mengharapkan imbalan investasi atas dana yang diinvestasikannya. Pihak yang membutuhkan dana (borrower) memperoleh manfaat atas dana yang diperoleh dari para lender untuk suatu investasi atau perluasan usahanya tanpa harus menunggu tersedianya dana dari hasil operasi perusahaan. Sedangkan fungsi keuangan yang dilakukan oleh pasar modal adalah dalam penyediaan dana yang dilakukan oleh lender untuk digunakan oleh para borrower. Para lender memberikan dana kepada borrower tanpa harus terlibat langsung dalam kepemilikan aktiva riil yang diperlukan oleh borrower.

Adanya fungsi-fungsi tersebut di atas, maka pasar modal memiliki daya tarik bagi para investor (pemodal) untuk menanamkan dananya dan bagi perusahaan yang membutuhkan dana. Bagi pihak yang membutuhkan dana, pasar modal dapat digunakan sebagai alternatif dalam pembiayaan perusahaan selain bank. Adapun bagi para  investor,  pasar  modal  dapat  digunakan  sebagai  alternatif penanaman  dana selain diinvestasikan pada aktiva riil (real assets) maupun bank.

Terdapat beberapa jenis investasi di pasar modal sebagai instrumen yang dapat diperjualbelikan, diantaranya adalah saham, obligasi, dan reksadana. Saham merupakan salah satu jenis sekuritas yang paling populer sebagai instrumen pasar modal. Dalam berinvestasi saham, investor berharap untuk memperoleh pendapatan (return)  yang  besar  berupa  dividen  dan  capital  gain pada  kelak  kemudian  hari, namun demikian investasi tersebut juga dihadapkan pada resiko yang besar pula. Oleh   karenanya   dalam   rangka   untuk   mendapatkan   gain yang   optimal   dan mengurangi tingkat resiko serendah-rendahnya, investor harus mendasari keputusan investasinya dengan melakukan berbagai pertimbangan.

Salah  satu  pertimbangan  penting  yang  terkait  dengan keputusan investasi saham bagi seorang investor adalah penentuan masa kepemilikan (holding period) saham. Holding period diartikan sebagai lamanya investor manahan dananya pada saham tertentu untuk waktu tertentu. Investor atau dalam hal ini pemilik saham, bebas untuk memilih jenis saham selain besar dan lamanya memegang financial asset tersebut. Jika suatu saham secara berkelanjutan dianggap dapat memberikan gain atau net return yang optimal, maka investor akan menahan masa kepemilikan saham tersebut lebih lama sebagai keputusan investasinya. Sebaliknya investor akan melepas  masa  kepemilikan  sahamnya,   jika   saham   tersebut  dianggap  dapat memberikan gain atau net return yang kurang optimal atau adanya indikasi bahwa saham     tersebut  dapat  mengakibatkan  kerugian   jika    mempertahankan    masa kepemilikannya  lebih  lama.  Menyadari  perlunya  pertimbangan  seorang  investor dalam mengambil keputusan untuk menentukan masa kepemilikan (holding period) suatu saham yang dimilikinya, maka sangat penting bagi investor untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi holding period saham biasa.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Atkins dan Dyl (1997) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan investasi saham biasa oleh investor khususnya terhadap lamanya kepemilikan (holding  period)  suatu saham, menyimpulkan bahwa panjangnya holding period investor berhubungan erat dengan bid-ask spread. Studi tersebut didasarkan pada teori yang disimpulkan Amihud dan Medelson (1986) yang menyatakan bahwa asset dengan transaction cost yang tinggi akan ditahan lebih lama oleh investor dan sebaliknya asset dengan transaction cost lebih rendah akan dimiliki dengan waktu yang lebih pendek. Hasil penelitian tersebut meyakinkan bahwa transaction cost yang dicerminkan oleh bid-ask spread memang mempengaruhi keputusan investor dalam menentukan masa kepemilikan (holding period) sahamnya.

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp350ribu Rp300ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk file/softcopy langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Telpon kami langsung atau ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509 atau 0274-9300600

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Spread merupakan selisih antara harga beli (bid) tertinggi yang menyebabkan pialang/dealer setuju membeli saham tertentu, dengan harga jual (ask) terendah yang menyebabkan investor setuju untuk menjual sahamnya. Besarnya spread tergantung pada besarnya biaya yang terjadi. Harga permintaan beli (bid price) dan penawaran jual (ask price) merupakan fungsi dari biaya dan informasi yang dimiliki investor. Investor berusaha untuk menentukan spread yang cukup untuk menutupi berbagai biaya yang terjadi.  Bid-ask spread yang tinggi akan menguntungkan investor karena semakin  besar  expected  return yang  diperoleh.  Hal  ini  akan  mempengaruhi keputusan investor untuk menahan saham lebih lama. Sebaliknya bid-ask spread yang rendah akan menyebabkan investor memilih holding period yang lebih pendek.

Berdasarkan penelitian Atkins dan Dyl (1997) market value (nilai pasar) merupakan salah satu variabel yang diduga mempengaruhi masa kepemilikan saham biasa.  Untuk  mendapatkan  jumlah  nilai  pasar  (market  value)  suatu  saham  yaitu dengan mengalikan harga pasar dengan jumlah saham yang dikeluarkan. Harga pasar ini merupakan harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain. Makin besar nilai pasar suatu perusahaan, makin lama pula investor manahan kepemilikan sahamnya, karena investor masih menganggap bahwa perusahaan besar biasanya lebih stabil keuangannya, risikonya lebih kecil dan mampu menghasilkan laporan dan informasi keuangan (Vinus, 2003).

Dalam kaitannya dengan pertimbangan investasi khususnya keputusan untuk menahan   atau   melepas   suatu   kepemilikan   saham,   return dan   tingkat   risiko merupakan bahan pertimbangan tambahan yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan, karena pada dasarnya antara risk of return atau tingkat risiko yang harus ditanggung dengan penentuan waktu untuk keputusan menahan atau melepas saham merupakan suatu hal yang saling berkaitan (Subali dan Diana, 2002). Secara teoritis, perkembangan risk of return saham yang tinggi akan mengakibatkan holding period saham menjadi lebih pendek.

Berdasarkan penelitian Vinus (2003) variabel lain yang diduga berpengaruh terhadap holding period investor terhadap saham biasa adalah kebijakan dividen (dividend policy) perusahaan, dalam hal ini Dividend Payout Ratio (DPR). Dividen mempunyai hubungan negatif signifikan terhadap bid-ask spread yang berarti saham-saham perusahaan yang membagikan dividen akan lebih likuid dibandingkan dengan perusahaan  yang  tidak  membagikan  dividen,  sehingga  dengan  kebijakan  dividen yang diterapkan diharapkan investor akan memegang/menahan sekuritas tersebut dalam jangka waktu pendek/panjang.

Dengan  dasar  pemikiran  tersebut,  maka  pada  penelitian  ini  ingin  dilihat apakah investor-investor di BEJ yang memiliki time investment horizon yang lebih panjang (pendek) akan menahan saham biasa yang memiliki bid-ask spread yang lebih  tinggi  (rendah).  Variabel-variabel  lain  yang  digunakan  pada  penelitian  ini adalah market value sebagai cerminan dari ukuran perusahaan, risk of return saham yang merupakan standar deviasi dari return realisasi, dan Dividend Payout Ratio (DPR) sebagai cerminan dari kebijakan dividen yang diterapkan masing-masing perusahaan. Penelitian dilakukan pada saham-saham LQ45 karena saham-saham tersebut memiliki kapitalisasi yang besar, paling sering diperdagangkan dan dapat mewakili karakteristik saham-saham yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Oleh karenanya pada penelitian ini diambil judul: “Analisis  Variabel-Variabel  Yang Mempengaruhi Holding Period Saham Biasa (Studi Pada Perusahaan Yang Tercatat Dalam Indeks LQ45 Periode 2003-2004)”.

1.2 Rumusan Masalah

Agar  memperoleh  kejelasan  dan  penelitian  yang  dilakukan  dapat  lebih terarah, maka masalah pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Apakah  variabel-variabel  bid-ask  spread,  market  value,  risk  of  return,  dan dividend payout ratio secara bersama-sama (simultan) berpengaruh signifikan terhadap  holding  period saham  biasa  pada  perusahaan  yang  tercatat  dalam indeks LQ45 periode 2003-2004?
  2. Apakah  variabel-variabel  bid-ask  spread,  market  value,  risk  of  return,  dan dividend payout ratio secara individu (parsial) berpengaruh signifikan terhadap holding period saham biasa pada perusahaan yang tercatat dalam indeks LQ45 periode 2003-2004?
  3. Manakah diantara variabel-variabel bid-ask spread, market value, risk of return, dan dividend payout ratio yang berpengaruh secara dominan terhadap holding period saham biasa pada perusahaan yang tercatat dalam indeks LQ45 periode 2003-2004?
Print Friendly

tags for the article:

jurnal tentang pengarus terhadap holding period (4)
ANALISIS VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI HOLDING PERIOD SAHAM BIASA (Studi Pada Perusahaan yang Tercatat dalam Indeks LQ45 Periode 2003-2004)

Leave a Reply