Referensi Jurnal Skripsi

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan pada hakekatnya adalah membuat sesuatu yang belum ada menjadi ada atau membuat suatu perubahan yaitu membuat sesuatu menjadi lebih baik  atau  meningkat.  Pembangunan  nasional  yang  berlandaskan  pemerataan pembangunan  dan  hasilnya,  pertumbuhan  ekonomi  yang  cukup  tinggi  dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis merupakan isi dari trilogi pembangunan dimana didalamnnya juga terdapat unsur kesempatan kerja yang merupakan salah satu unsur dari pemerataan pembangunan dalam rangka mewujudkan kondisi perekonomian yang mantap dan dinamis.

Usaha mikro mempunyai peranan cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, penyediaan barang dan jasa murah, serta penanggulangan kemiskinan. Disamping itu, usaha mikro juga merupakan salah satu komponen utama dalam pengembanganan ekonomi lokal yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Sebagai gambaran  pada  tahun  2003  tenaga  kerja  yang  diserap  oleh  sektor  industri (Anonim, 2004). Ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi, usaha kecil terbukti mampu bertahan, antara lain tampak dari penyerapan tenaga kerja yang tidak berkurang. Bahkan usaha kecil mampu berperan sebagai penyangga dan katup pengaman  dengan  menyediakan  lapangan  pekerjaan  alternatif  bagi  pekerja disektor industri formal yang terkena dampak akibat krisis moneter.

Tabel 1.1

Kontribusi Penyerapan Tenaga Kerja Oleh Industri Kecil, Sedang Dan Besar Di

Jawa Timur

Variabel

Tahun

2001

2002

2003

2004

Industri kecil dan

Kerajinan RT

1.338.968

1.382.264

1.402.560

1.442.672

Industri besar dan

Sedang

896.072

924.250

938.552

962.250

Total

2.234.995 2.306.514 2.341.112 2.404.922

Sumber : Disperindag Prop. Jatim

Berdasarkan  tabel  diatas,  dapat  dilihat  bahwa  kontribusi  penyerapan tenaga kerja mulai tahun 2001 hingga tahun 2004, kontribusi dalam menyerap tenaga kerja yang paling besar diduduki oleh industri kecil, mulai tahun 2001 tercatat sebanyak 1.338.968, tahun 2002 sebanyak 1.382.264, dan tahun 2003 sebanyak 1.402.560 dan tahun 2004 jumlah industri kecil ini terus bertambah hingga mencapai jumlah 1.442.672. Industri kecil mengalami pertumbuhan positif jika dibandingkan dengan industri sedang dan besar. Dengan karakteristik yang dimilikinya ini, ternyata industri kecil lebih mampu menghadapi krisis ekonomi bahkan dapat tumbuh hingga saat sekarang ini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa industrialisasai di Indonesia sejak pelita 1 hingga saat ini telah mencapai hasil yang diharapkan. Setidaknya industrialisasi telah mengakibatkan transformasi strutural di Indonesia. Pola pertumbuhan ekonomi secara struktural di Indonesia agaknya sejalan dengan kecenderungan proses  transformasi  struktural  yang  terjadi  di  berbagai  negara,  dimana  terjadi penurunan kontribusi sektor pertanian (sektor primer), sementara kontribusi sektor sekunder dan tersier cenderung meningkat (Mudrajad kuncoro, 1997).

Industri kecil di Indonesia mempunyai peluang yang besar untuk berkembang, perkembangan ini sangat dihargai apabila dapat berlangsung atas parkarsa dan dengan kekuatan masuyarakat sendiri, sehingga pemerintah tinggal membantu  dengan fasilitas-fasilitas  dan  kemudahan-kemudahan  serta perlindungan   yang   diperlukan.   Masyarakat   desa   biasanya   mampu   dengan kekuatan sendiri menumbuhkan industri kecil (Dumairy,1997).

Pada hakekatnya keberadaannya industri kecil dan menengah (IKM) tidak seterpuruk industri besar, alasannya adalah : pertama, mayoritas dari Industri kecil lebih mengandalkan pada non-bangking financing dalam aspek pendanaan usaha. Hal ini terjadi karena akses industri kecil pada fasilitas perbankan sangat terbatas. Kedua, pada umumnya industri kecil melakukan spesialisasi produksi yang  ketat dalam artian hanya memproduksi barang atau jasa tertentu saja. Modal yang terbatas menjadi salah satu faktor yang melatarbelakanginya. Di lain pihak,mengingat struktur pasar yang dihadapi IKM mengarah pada persaingan sempurna (banyak produsen dan banyak konsumen), tingkat persaingan sangatlah ketat. Akibatnya yang bangkrut atau keluar dari arena usaha relatif banyak, namun pemain baru yang masuk pun cukup banyak pula, sehingga secara riil jumlah pelaku tidak akan mengalami pengurangan ataupun penambahan yang bearti. Spesialisasi dan struktur pasar persaingan sempurna inilah yang membuat industri kecil cenderung lebih fleksibel dalam memilih dan berganti jenis usaha, apalagi mengingat bahwa industri kecil tidak membutuhkan kecanggihan teknologi dan kualitas sumber daya manusia yang tinggi. Ketiga, terbentuknya industri-industri kecil baru, terutama di sektor informal, sebagai akibat dari banyaknya pemutusan hubungan kerja di sektor formal karena krisis ekonomi yang berkepanjangan. Banyaknya unit usaha baru di sektor informal ini pada akhirnya membuat tidak terjadi penurunan jumlah IKM dan koperasi, bahkan dalam kenyatannya mengalami peningkatan lebih dari satu juta unit. Bukti-bukti nyata menunjukkan bahwa pada krisis ekonomi, sektor industri kecil telah berprestasi lebih baik dari pada industri besar. Ini dapat dimengerti karena industri kecil tidak terlalu membuka diri terhadap sektor keuangan modern dan mereka cenderung memproduksi barang-barang primer bukan barang mewah, selain itu juga mereka lebih  fleksibel  dan  tidak  terbebani  dengan  biaya  overheads  yang  mahal,  jadi secara tidak langsung industri kecil telah berprestasi baik dalam dekade terakhir ini (Anonim,2004).

Membicarakan  tentang  masalah  industri  tentunya  tidak  saja  ditujukan hanya kepada industri-industri besar dan menemgah saja, tetapi perhatian yang sepadan harus pula diarahkan pada industri kecil dan rumah tangga yang banyak ditemui  di  pedesaan.  Industri  kecil  dan  rumah  tangga  telah  berperan  penting dalam  perekonomian  nasional  selama  PJP  1,  walaupun  tingkat  kemampuan industri kecil dan rumah tangga mempunyai potensi yang besar dalam memperkokoh struktur industri di Indonesia terutama berperan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan, penyerapan tenaga kerja, dan pengentasan masyarakat dari kemiskinan. Demikian pula potensi industri kecil dan rumah tangga cukup besar dalam mendukung persebaran industri, mengatasi ketimpangan struktural antara perekonomian perkotaan dengan pedesaan dan mendukung resstruturisasi perekonomian pedesaan ke arah yang lebih maju.

Tampaknya terdapat beberapa – beberapa alasan kuat yang mendasari eksistensi dan keberadaan industri kecil dan rumah tangga dalam perekonomian Indonesia. Alasan pertama, yaitu bahwa sebagian bessar populasi industri kecil dan rumah tangga berlokasi di daerah pedesaan, sehingga jika dikaitkan dengan kenyataan tenaga kerja yang semakin meningkat serta luas tanah garapan yang relatif berkurang, industri kecil merupakan jalan keluaranya. Kedua, beberapa jenis kegiatan industri kecil dan rumah tangga banyak menggunakan bahan baku dari sumber-sumber di lingkungan terdekat (disamping tenaga kerja yang murah) telah menyebabkan biaya produksi dapat ditekan rendah. Ketiga, harga jual yang relatif murah sesungguhnya mempunyai suatu kondisi yang berjawab tersendiri yang memberi peluang bagi industri kecil dan rumah tangga untuk tetap bertahan. Keempat, tetap adanya permintaan terhadap beberapa jenis komoditi yang tidak di produksi secara maksimal juga merupakan salah satu aspek pendukung yang kuat (Irsan Azhary Saleh, 1986).

Meningkatnya angka pengangguran selama beberapa tahun terakhir ini disebabkan   karean   ketidakseimbangan  pertumbuhan    angkatan    kerja    dan penciptaan kesempatan kerja. diantara mereka yang tidak tertampung disebabkan kurangnya pendidikan dan ketrampilan kerja sehingga mereka terpaksa tertinggal dalam proses pembngunan (Irawan dan M. Suparmoko,1995).

Kabupaten Gresik merupakan wilayah penyanggah Kota Surabaya, secara umum,  setidaknya Kabupaten  Gresik  memiliki  beberapa  keunggulan  sebagai alternatif terbaik untuk berinvestasi atau menanamkan modal, yaitu karena :

  • Pertumbuhan industri di Kabupaten Gresik dalam tiga tahun terakhir ini selalu mengalami kenaikan yang sangat signifikan, meski secara nasional Indonesia masih mengalami krisis ekonomi. Dibanding  tahun  2001,  pada  tahun  2002   untuk  industri  besar mengalami kenaikan 22 persen yaitu dari 472 unit menjadi 531 unit sedang industri kecil meningkat 2,6 persen dari 4.703 unit menjadi 4.772 unit. Begitu pula untuk nilai investasi, nilai produksi dan penyerapan tenaga kerjanya, semuanya mengalami kenaikan. Pertumbuhan      industri        yang    positif  ini        turut                         mendorong pertumbuhan nilai ekspor yang sangat tinggi bagi Kabupaten Gresik. Dimana pada tahun 2002 nilai ekspor dari kegiatan industri dan  perdagangan  dari  Kabupaten  Gresik  mencapai  1,7  milyar dollar  AS,  meningkat  60  persen  dibanding  tahun  2001  yang realisasi ekspornya hanya 1 milyar dollar AS.

Tabel 1.2

Kontribusi Penyerapan Tenaga Kerja Oleh Industri Kecil Dan Industri

Besar Di Kabupaten Gresik

variabel

tahun

1999

2000

2001

2002

2003

2004

Industri besar 139.392 151.792 159.330 165.269 172.907 178.325
Industri kecil 34.422 37.532 38.543 39.171 41.327 42.072
total 173.814 189.324 197.873 204.440 214.234 220.397

Sumber : dinas perindustrian dan perdagangan kab.Gresik

Dari  tabel  diatas,  dapat  diketahui bahwa  kontribusi  penyerapan  tenaga kerja mulai tahun 1999 sampai tahun 2004 terus mengalami peningkatan. Kontribusi   dalam   penyerapan   tenaga   kerja   diduduki   oleh   industri   besar. Kontribusi penyerapan tenaga kerja pada industri kecil sejak tahun 1999 hingga 2004 mengalami peningkatan, dari 34.422 sampai 42.072. hal ini terbukti bahwa penyerapan   tenaga   kerja   pada   industri   kecil   di   Kab.   Gresik   mengalami pertumbuhan yang positif.

Pesatnya perkembangan Industri di Kabupaten Gresik baik berupa industri kecil, menengah maupun industri besar perlu diantisipasi dan diarahkan perkembangannya melalui suatu perencanaan dan pengalokasian kegiatan industri. Pengembangan tersebut dimaksudkan agar kegiatan industri atau kawasan industri di masa mendatang tidak menimbulkan masalah-masalah baik dari segi tataruang, sosial ekonomi maupun terhadap lingkungan. Melalui perencanaan dan penataan diharapkan terdapat keserasian  antara  pengembangan  kawasan  industri,  fungsi kawasan, dan permukiman penduduk. Menurut UU no 5 tahun 1984 tentang perindustrian, pada pasal 3 disebutkan bahwa tujuan pembangunan industri ditujukan untuk :

  1. Meningkatkan  kemakmuran  dan  kesejahteraan  rakyat secara  adil  dan merata dengan memanfaatkan dana, sumber daya alam atau hasil budi daya serta memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup.
  2. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara bertahap, mengarahkan struktur perekonomian ke arah yang lebih baik, maju, sehat, dan lebih seimbang senbagai upaya untuk mewujudkan dasar yang lebih kuat dan lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi pada umumnya serta membeli nilai tambah bagi pertumbuhan industri pada khususnya.
  3. Meningkatkan kemampuan  dan penguasaan serta mendorong terciptanya teknologi yang tepat guna dan menumbuhkan kepercayaan terhadap kemampuan dunia usaha nasional.
  4. meningkatkan keikutsertaan masyarakat dan kemampuan golongan ekonomi lemah, termasuk pengerajin agar berperan secara aktif dalam pembangunan industri.
  5. Memperluas   dan   memeratakan   kesempatan   kerja   dan   kesempatan berusaha serta meningkatkan peranan koperasi industri.
  6. Meningkatkan penerimaan devisa melalui peningkatan ekspor hasil produksi nasional yang bermutu, disamping penghematan devisa melalui pengutamaan hasil produksi dalam  negri,   guna  mengurangi ketergantungan kepada luar negri.
  7. Mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan Industri yang menunjang pembangunan daerah dalam rangka perwujudan kawasan nusantara.
  8. Menunjang  dan  memperkuat  stabilitas  nasional  yang  dinamis  dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional.

Penelitian ini meneliti lebih lanjut tentang industri-Industri kecil di Gresik dari segi penyerapan tenaga kerja, jumlah investasi dan nilai produksi. Mengingat bahwa industri-indusri kecil di Gresik merupakan kumpulan industri-industri kecil yang memiliki keunggulan serta mampu untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang relatif banyak. Berdasarkan kenyataan diatas, maka judul dalam penelitian ini adalah : “Analisis Pengaruh Investasi, Nilai Produksi, Jumlah Unit Usaha dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Kecil di Kabupaten Gresik “

1.2 Permasalahan

Industri-Industri kecil yang mengemban misi pemerataan diharapkan mampu menampung ledakan tenaga kerja yang terjadi. Hal ini juga dialami oleh Kabupaten Gresik dimana kemampuan sektor industri kecil dalam meningkatkan daya    serapnya  terhadap  tenaga   kerja  dipengaruhi  oleh  beberapa faktor, diantaranya  investasi,  nilai  produksi,  jumlah  unit  usaha  dan  Pertumbuhan ekonomi. Dengan melihat dari uraian diatas, dapat diambil suatu garis besar beberapa masalah yang akan diteliti yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Seberapa besar tingkat investasi, nilai produksi jumlah unit usaha  dan Pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja pada Industri kecil di Kabupaten Gresik ?
  2. Variabel mana  yang  paling  dominan/ berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja pada Industri Kecil di Kabupaten Gresik?

Tulisan terkait:

tags for the article:

Jurnalskripsi.com » Analisis Pengaruh Investasi, Nilai Produksi, Jumlah Unit Usaha dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Kecil di Kabupaten Gresik

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk file/softcopy langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Telpon kami langsung atau ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509 atau 0274-9300600

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Comments are closed.